Raphael menyarankan untuk melakukan mediasi, terkait pertikaian antara Kanya dan Sasha. Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati Kanya tidak yakin jika Sasha ingin berdamai dengannya. Tetapi, ia menghargai niat baik sang pengacara yang ingin mencarikan jalan keluar untuknya.
“Sebenarnya, aku yakin akan menang melawan dia. Tapi, kalau kasus ini berlarut-larut, akan merugikan nama kalian juga.” Raphael berkata suatu hari di kantornya.
Kanya hanya tersenyum tipis. “Aku nggak yakin dia mau.”
“Bagaimana kalau dia ternyata mau, Kanya? Apa kamu bersedia bertemu?”
“Entahlah.”
Ia menjawab pelan karena memang tidak yakin. Jika melihat kepribadian Sasha, tidak mungkin wanita itu mengendurkan niatnya jika ingin melakukan sesuatu. Pasti ada hal yang diinginkan wanita itu, terlepas dari masalah perseteruan mereka. Mengingat jika keuangannya sedang tiris dan ia tidak ingin banyak merepotkan Raphael, dengan berat hati ia mengangguk.
“Baiklah, ketemukan kami.”
Rencana pertemuan dengan Sasha membuat Kanya dilanda kegugupan sepanjang hari. Ia bahkan tidak fokus bekerja. Saat di rumah pun, ia sering kali melamun. Sikapnya yang aneh, ditangkap oleh Arka.
“Kamu ada masalah apa? Dari tadi melamun terus.”
“Kamu ingat Sasha?”
Arka mengangguk. “Sainganmu.”
“Iya, dia mengajukan banding lalu sekarang mediasi ingin bertemu.”
“Bukannya itu bagus?”
Kanya mendesah, menyandarkan tubuhnya ke d**a Arka. Mereka baru saja selesai makan malam dan kini menikmati waktu santai berdua di ruang tamu.
“Entahlah, menilik sifat Sasha, aku nggak yakin dia tulus.”
“Nggak mau coba ketemu?” Arka mengelus lengan Kanya. “Siapa tahu dugaanmu salah.”
“Ehm menurutmu kami harus bertemu?” Kanya balik bertanya. “Setelah apa yang dia lakukan selama ini padaku? Sedangkan Raphael mengatakan jikalau pun dia banding, ada kemungkinan kami menang!”
Tersenyum penuh pengertian, Arka memutar tubuh Kanya. “Memang, bukannya kamu bilang biaya pengacara mahal? Kamu punya uang?”
Kali ini Kanya menggeleng sedih. “Nggak, justru itu kendalanya.”
“Nah, coba saja dulu ketemu. Apa mau kutemani?” Arka menawarkan diri sambil mencolek dagu Kanya.
“Nggak usah, biar aku atasi sendiri.”
Kanya sempat terdiam lama di depan cermin, menimbang-nimbang keinginan untuk mengajak Arka menemui Sasha. Ada bagian dalam dirinya yang merasa bahwa kehadiran Arka di sisinya akan menjadi tameng yang kuat, memberinya keberanian ekstra yang selama ini sulit ia kumpulkan sendiri. Namun, niat itu tertahan oleh satu kenyataan pahit: Arka sangat membenci setiap interaksi yang melibatkan Raphael. Kanya tidak ingin merusak suasana atau memicu pertengkaran hanya karena kecemburuan pemuda itu yang sering kali muncul tanpa peringatan.
Lagipula, hubungan mereka masih berada di zona abu-abu yang membingungkan. Kanya sendiri tidak mampu mendefinisikan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Apakah mereka sepasang kekasih yang saling memiliki, atau hanya sekadar teman tidur yang saling mencari kehangatan di balik selimut? Kanya bahkan tidak berani jujur pada perasaannya sendiri.
Di sisi lain, Arka pun tidak pernah memberikan kepastian. Pemuda itu tidak pernah sekalipun mengucap kata cinta atau janji tentang masa depan. Mereka bergerak di atas kesepakatan tak tertulis sebagai dua manusia dewasa yang sama-sama tahu konsekuensi dari keintiman tanpa status. Pada akhirnya, Kanya memilih untuk tetap bungkam. Ia memutuskan untuk tidak merusak apa yang ada sekarang dengan pertanyaan-pertanyaan berat. Bagi mereka, yang terpenting adalah menikmati momen hari ini, sementara urusan esok biarlah menjadi rahasia nanti.
Waktu untuk mediasi disepakati. Mereka berempat bertemu di sebuah lounge hotel. Sasha datang bersama pengacaranya—seorang wanita awal empat puluhan dengan rambut pendek dan berkacamata—sementara Kanya datang bersama Raphael.
Untuk sesaat mereka tidak saling bercakap. Kanya sibuk dengan ponselnya, begitu pula Sasha. Keduanya hanya mendengarkan percakapan basa-basi antara Raphael, dan pengacara perempuan yang bernama Nola.
“Jadi, bagaimana? Bisa kita mulai pembicaraan kita?” Raphael menepuk kedua tangan, menatap bergantian ke arah Kanya dan Sasha.
Jawaban Kanya hanya berupa gedikan di bahu, sedangkan Sasha meletakkan ponselnya ke meja. Wanita itu menatap ke sekeliling meja lalu berucap pelan.
“Bisakah kalian berdua tinggalkan kami sebentar?”
Permintaannya direspon dengan kening berkerut oleh Kanya. Raphael bertukar pandang dengan Nola lalu mengangguk bersamaan.
“Tentu, kami tinggalkan kalian berdua,” ucap Nola bangkit dari kursi, diikuti oleh Raphael.
Sepeninggal keduanya, Sasha duduk dengan mengangkat satu kaki. Memandang Kanya lurus-lurus.
“Aku punya uang sekarang,” ucapnya tanpa basa-basi.
“Bagus dong, pasti dari suamimu. Dengar-dengar, istri kedua?” jawab Kanya ringan.
Sasha tersenyum sinis, menjentikkan kuku-kukunya yang dicat warna putih. “Well, nggak masalah istri keberapa, yang penting aku punya uang dan kuasa.”
Tidak tahan untuk mencela, Kanya mengacungkan kedua jempolnya. “Hebaat! Salut sama keberanianmu!”
“Dan aku berniat menghancurkanmu dengan kuasaku!”
Ancaman Sasha membuat Kanya tersenyum kecil. Ia mencondongkan tubuh sambil menyipitkan mata.
“Aku heran, apa alasanmu buat ngancurin aku. Kayak ada dendam.”
“Kamu curang!” jawab Sasha lugas.
“Oh, ya? Yang mana? Bukannya pembagian keutungan kita sudah jelas? Bagian mana yang curang?”
“Semua pegawai kita tahu kamu mengaburkan laporan keuangan!”
“Kamu gila, ya!” sergah Kanya keras. “Akunting di kantorku adalah anak buahmu. Mana mungkin aku melakukan hal gila seperti itu.”
Sasha melambaikan tangan tak peduli. Menatap sinis ke arah Kanya yang melotot marah padanya. Mereka terdiam saat seorang pelayan datang menyajikan minuman.
“Sebenarnya, ada hal lain,” ucap Sasha sambil meraih gelas di atas meja. “Kamu jelas tahu aku cinta dengan siapa.”
“Bobby Monti.”
“Yes, dan kamu menggodanya.”
“Hahaha. Sorry, tapi aku nggak suka dengan laki-laki lemes kayak dia!”
“Hah, kalau dikasih uangnya juga kamu doyan. Bukannya dia naruh saham di tempatmu?
“Memang, dan kami murni bisnis!”
“Itu dia!” Sasha meletakkan gelas ke atas meja dan menatap Kanya dengan pandangan berapi-api. “Aku jelas-jelas menawarkan diriku dan juga investasi ke tempatku. Sialnya, dia memilihmu!”
“Bukan aku yang minta,” jawab Kanya tegas. “Dia yang percaya padaku!”
“Itu dia yang membuatku marah! Amat sangat marah. Dia lebih memilihmu dari pada aku.”
Kanya menghela napas panjang, menatap wanita yang pernah menjadi sahabatnya. Penampilan Sasha tidak lagi sama seperti dulu. Kini, wanita itu terlihat glamour dengan pakaian indah dan barang-barang branded yang melekat di tubuhnya. Namun, ada kesedihan samar yang tersirat di balik sikap angkuhnya. Kanya sangat mengenal Sasha, hingga ia bisa melihat titik kesedihan itu.
“Kamu sudah menikah, kenapa masih memikirkan Bobby Monti?” tanya Kanya pelan.
Sasha tersenyum. “Dia laki-laki pertama yang aku cintai. Pasti kamu nggak tahu kalau kami pernah tidur bersama?”
Keterkejutan mewarnai wajah Kanya saat mendengar penuturan Sasha. “Benarkah?”
“Iya, dari awal bertemu aku sudah menyerahkan diriku. Brengseknya, dia justru menginginkanmu!”
Kanya mengangkat bahu. “Aku hanya menganggapnya sahabat.”
“Buktikan!”
“Apa?”
Dengan senyum terkulum Sasha menatap Kanya lekat-lekat. “Buktikan kalau kamu memang tidak ada rasa sama Bobby Monti.”
“Bagaimana?” tanya Kanya kebingungan.
“Gampang sekali. Malam Minggu nanti, akan ada pesta di rumahku. Aku mengundangmu datang. Aku memintamu merayu Bobby Monti lalu hempaskan dia. Kalau kamu bisa melakukan itu, aku yakin kamu memang tidak ada perasaan apa pun dengan dia. Maka, semua tuntutan aku cabut dan aku akan meminta Rachelia mengembalikan nama baik brand-mu, bagaimana?”
Kanya ternganga, sama sekali tidak menduga dengan jalan pikiran Sasha. Tidak pernah terpikirkan olehnya sama sekali, harus merayu Bobby Monti, yang ia tahu jelas-jelas punya penyimpangan s****l.
Hingga pertemuan berakhir, ia masih tidak dapat memberikan jawaban pada Sasha. Namun, akhirnya ia memilih membuktikan diri demi nama baik brand-nya. Satu hari sebelum pesta, ia memberi konformasi pada Sasha akan datang ke pesta wanita itu.