BAB 14

1183 Words
Kanya benar-benar kehilangan logika saat memikirkan ikatannya dengan Arka. Hampir setiap malam, ranjang menjadi saksi bisu betapa lihainya Arka mengeksplorasi setiap inci kulitnya. Gerakan pemuda itu kian berani dan presisi, menciptakan gelombang panas yang membuat Kanya berkali-kali mengerang kencang saat puncak kenikmatan itu meledak hebat. Kini, batas antara mereka kian kabur semenjak kunci cadangan berpindah tangan. Kanya melangkah masuk ke unit Arka dengan kenyamanan yang sama seperti berada di rumahnya sendiri. Ia sama sekali tidak berani mendeklarasikan diri kalau hubungannya dengan Arka adalah sepasang kekasih. Karena jauh di lubuk hati, ia tahu jika mereka berdua saat ini membutuhkan kasih sayang dan sentuhan fisik. Sama sekali tanpa kata cinta terucap. Tidak ada yang tahu perihal hubungannya dengan Arka, termasuk sahabatnya sendiri Angela. Wanita itu masih berniat menjodohkannya dengan Raphael. “Dia laki-laki tampan, mapan, dan hebat. Tunggu apa lagi, sih, kamu?” ucap Angela suatu sore saat mampir ke kantor Kanya. “Ih, memangnya dia bilang kalau naksir aku?” tanya Kanya balik. “Hei, tanpa dibilang juga semua orang tahu. Kamu aja yang buta!” “Jangan sewot, dong. Santai! Lagipula hubungan kami sebatas rekan kerja, professional.” Kanya berkilah. Ia merasa gerah karena Angela terus menerus berusaha menjodohkannya dengan Raphael. Angela menyipit, memandang Kanya yang menunduk di atas tumpukan dokumen. Mereka sudah saling mengenal selama beberapa tahun, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kanya, Ia tak tahu apa itu. “Apa kamu punya uang?” tanyanya tiba-tiba. Kanya mendongak lalu mengernyit. “Berapa? Kamu butuh uang?” “Bukan, uangnya buat kamu jaga-jaga. Karena aku yakin, sidang selanjutnya akan mengeluarkan banyak uang.” “Ah benar,” gumam Kanya. Ia mengerti arti ucapan sahabatnya. “Bagaimana dengan Rachelia dan pengaruhnya pada brand kalian?” Pertanyaan Angela membuat Kanya murung. Ia masih merasa sakit hati karena pernyataan Rachelia tentang produknya membuat perjualan jadi tersendat. Sekarang hampir setiap hari ada pertanyaan dari para konsumen tentang produk kecantikan mereka. Banyak juga yang mengatakan pindah dan menggunakan mereka yang lain karena tidak lagi percaya dengan merek miliknya. “Sedikit banyak berdampak, penjualan menurun,” ucap Kanya pelan. “Dia silau karena uang.” “Serakah memang!” “Dan, dia dari dulu menyukai Bobby Monti tapi ditolak!” “Karena Bobby Monti suka sama kamu. Hei, bukannya laki-laki itu gay?” Kanya mengangkat bahu. “Entahlah. Tapi Sasha membenciku karena itu.” “Ah, dia pasti karena menginginkan harta Bobby Monti. Kamu tahu sendiri dia serakah!” “Bisa jadi.” Keduanya terus berbincang sembari memaki-maki Sasha hingga waktu pulang tiba. Kejutan menanti Kanya saat melihat sosok Raphael berdiri di ambang pintu kantornya. Laki-laki itu terlihat tampan meski gurat kelelahan tercetak jelas di wajahnya. “Hai, bisa temani aku ngopi?” Kanya yang semula berniat pulang cepat, tidak kuasa menolak tawaran laki-laki itu. Bagaimana pun, ia membutuhkan jasa dan bantuan Raphael untuk menangani kasus Sasha. Ia mengangguk, dan meminta Raphael masuk. Sementara para pegawainya pulang. Tertinggal hanya mereka berdua di dalam kantor. “Kopi racikanku habis. Yang ada hanya kopi sachet. Aku pesankan dari kafe di luar, ya?” tanya Kanya saat Raphael mengenyakkan diri di seberang kursinya. “Nggak usah, yang sachet juga nggak apa-apa,” tolak laki-laki itu. “Yakin? Aku nggak enaklah ngasih pengacara besar kopi scahetan.” “Halah, kayak sama siapa aja.” Kanya tertawa, meninggalkan laki-laki itu di dalam kantornya sementara ia pergi ke dapur. Setelah membuat dua gelas kopi, ia membawanya ke dalam kantor. “Silakan, kopi sachetnya Pak Pengacara.” “Terima kasih, Cantik.” Pujian Raphael membuat Kanya tertawa lirih. “Apa kamu datang untuk memberitahu kasus Sasha?” “Nggak, sementara ini belum ada perkembangan lain. Aku datang karena memang kangen sama kamu.” “ldih, apaan, sih. Kantor kita aja deketan.” “Memang tapi jarang ketemu. Waktu kita jarang sekali singkron. Setiap kali aku kembali ke kantor lebih awal untuk ngajak kamu makan atau nonton, kamu nggak ada. Ini aja untung-untungan kamu belum pulang.” Kanya terdiam mendengar penuturan Raphael. Ia menatap laki-laki itu dengan rasa heran terselip di d**a. Entah apa yang menarik darinya, tapi ia tidak salah mengenali jika sedang didekati. Terkaan Angela terhadap sikap Raphael, mau tidak mau ia akui kebenarannya. Menilik dari perkataan yang baru saja diucapkan laki-laki di depannya. Namun, ia mencoba menepis dugaan itu jauh-jauh dengan mengatakan pada diri sendiri jika sang pengacara hanya ingin berteman. “Kanya, kok diam?” Teguran Raphael membuatnya tersentak.“Bingung mau bilang apa,” ucapnya terus terang. “Kaget sama ucapanku?” tanya Raphael. “Sedikit. Dan jadi nggak enak hati karena jarang bisa temani kamu makan.” “Bukan itu yang aku mau, sih.” Raphael meletakkan cangkir berisi kopi yang sedari tadi ia pegang. Meraih tangan Kanya dan menggenggamnya. Ia tak peduli meski melihat wanita itu berjengit karena sentuhannya. “Aku tahu kamu pasti bisa menduga akan niatku. Karena itulah, tolong pertimbangkan.” Kanya menganga. “Maksudnya?” “Aku ingin menjalin hubungan yang dekat denganmu. Bukan sebagai pengacara dan klien, tapi sebagai laki-laki dan perempuan. Aku ingin punya hubungan yang istimewa denganmu. Tolong pertimbangkan.” Kanya menatap tangannya yang berada dalam genggaman Raphael. Curahan hati laki-laki itu membuatnya kehilangan kata-kata. Ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Hingga saat pulang tiba, dan ia sampai di apartemennya, perkataan Raphael masih terngiang di kepala. lni adalah pertama kalinya ada seorang laki-laki yang berniat serius dengannya. Itu membuatnya sedikit shock. “Kak, baru pulang juga?” Ia kaget saat mendapati Arka berada di sampingnya. “Kamu juga?” “Iya, baru saja. Hari ini kunjungan ke pabrik lalu ke kantor.” Mereka memasuki lift bersama beberapa orang lainnya. Arka melingkarkan tangannya di bahu Kanya dan melindungi wanita itu dari himpitan penumpang yang lain. “Ada masalah?” bisik Arka di telinganya. Kanya menggeleng. “Nggak, biasa aja.” Namun, Arka tidak dapat dibohongi. Meski Kanya tidak menjawab tapi ia tahu ada yang tidak beres dengan wanita itu. Ia tidak lagi bertanya selagi berada di dalam lift yang penuh. Saat lift berhenti di lantai 10, dengan lembut ia menarik tangan Kanya dan membimbing wanita itu keluar. Tiba di lorong yang sepi, tepat di depan pintu unitnya, ia meraih dagu Kanya dan melayangkan satu ciuman yang panas. “Hei, ada apa?” protes Kanya. “Membantumu,” jawab Arka dengan serak. “Bantu apa?” “Menghapus apa pun masalah dalam otakmu sekarang.” Kanya memilih bungkam, membiarkan keheningan apartemen menyambut mereka. Ia melingkarkan lengannya erat pada leher Arka tepat saat pintu unit itu terkatup rapat di belakang mereka. Dalam sekejap, punggung Kanya bersandar pada permukaan pintu yang dingin, kontras dengan panas tubuh Arka yang menghimpitnya tanpa celah. Bibir mereka bertemu dalam lumatan yang menuntut, saling menyesap dan mencari sela dengan intensitas yang meluap. Arka bergerak dengan ritme yang sangat presisi, membuktikan kepiawaiannya dalam memacu adrenalin Kanya melalui sentuhan kulit yang begitu nyata. Saat jemari Arka mulai bergerak lincah membuka kancing kemejanya satu per satu, Kanya memejamkan mata. Rasa hangat yang menjalar di dadanya seketika menghapus bayang-bayang Raphael. Segala keluh kesah dan rahasia yang pernah Raphael bisikkan menguap begitu saja, kalah telak oleh gairah mentah yang kini menguasai seluruh inderanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD