BAB 8

1175 Words
Kanya bergegas masuk dan menyeberangi lobi demi menyusul Arka yang sudah berdiri di depan lift. Saat pintu lift terbuka, ia berada di sana di waktu yang pas. Bersikap seakan-akan tidak mengenalnya, Arka berdiri kaku dalam balutan celana jin, kemeja kotak-kotak dan bertopi hitam. Ada tas ransel besar di punggungnya. “Arka, kamu baru pulang kuliah?” sapanya ramah. Hening, tidak ada jawaban. Sikap tubuh Arka seakan menyiratkan tidak mendengar sapaannya. “Hei, kamu marah sama aku?” Akhirnya, ia bertanya tidak sabar dengan tangan terulur dan mencubit pinggang Arka. “Aww, apaan, sih. Sakit, tahu!” Arka menggerutu sambil mengusap pinggangnya. “Siapa suruh kamu cuekin aku!” Kanya berucap sambil berkacak pinggang. Arka tersenyum kecil, melirik wanita di sampingnya yang malam ini terlihat menawan dalam balutan mini dress hijau botol dengan tali abu-abu besar di pinggang. Beberapa hari mereka tidak berjumpa tapi terasa bertahun-tahun lamanya. Rasa jengkel karena diabaikan kini bercokol di hatinya. “Arka, kamu diam aja. Marah, ya, karena aku cuekin?” Kanya berucap menggoda, mengelus lengan Arka dengan lembut. Sentuhan Kanya menyulut kekesalan dalam diri Arka. Tanpa diduga, ia meraih lengan wanita di sampingnya dan menghimpitnya ke dinding lift. Tidak memedulikan keterkejutan di wajah Kanya, ia berbisik lembut. “Kenapa menghindariku, Kak? Kamu takut sama aku?” Kanya menelan ludah. “Arka, kamu bicara apa?” Ia bertanya dengan takut-takut karena kuatir ada orang masuk ke dalam lift. Namun, nyatanya lift tetap meluncur ke atas dengan mulus. “Nggak balas pesan, nggak angkat telepon. Kamu takut aku mencium atau membelaimu lagi? Harusnya bicara yang jujur jadi aku cukup tahu diri!” “Hei, bukan begitu!” bantah Kanya. “Oh, ya. Lalu apa? Apa kamu takut berdekatan denganku, Kak. Kayak gini?” Dengan sengaja, Arka menyandarkan tubuhnya dengan tangan mengikat lengan Kanya. “Arka, sadar kamu. Ini di lift.” “Kenapa memangnya? Kita toh pernah berciuman di depan banyak orang.” Kanya menahan napas. Terlebih saat merasakan embusan hangat napas Arka di lehernya. la berharap agar lift cepat sampai tujuan, demi menghindari kepergok orang lain. Meski ia menyadari jika apa yang mereka lakukan sekarang, terekam kamera CCTV. Ia tidak dapat menyembunyikan perasaan lega, saat lift berhenti di lantai sepuluh. Namun, ia kembali terkejut saat Arka menyeret tangannya keluar dari lift. Mereka menyusuri lorong apartemen dalam diam, hingga tiba di depan pintu unitnya, Kanya kembali dihimpit ke dinding. “Arka, kendalikan dirimu,” bisiknya berusaha menenangkan. Arka tersenyum, mengunci tubuh Kanya antara dirinya dan pintu. Tangannya menyusuri pelan d**a wanita itu lalu turun ke bawah . Dengan lembut mengelus paha yang tidak tertutupi kain. “Kamu tahu, Kak. Aku orangnya sangat pemalu dan segan sama cewek. Aku berusaha mengendalikan diri, tidak peduli bagaimana mereka menggodaku. Tapi sama kamu aku beda,” bisiknya serak di telinga Kanya. “Kamu menggodaku dengan teramat kejam.” “Hei, jangan begitu.” Kanya berusaha mengelak. Ia menegang saat tangan Arka merayap pelan di pahanya dan kini bahkan mengelus bagian atas pahanya. “Beberapa hari ini kamu menghindariku. Membuatku bertanya-tanya apa yang salah.” “Kamu nggak ada salah,” jawab Kanya serak. Ia tidak dapat menahan desahannya saat tangan Arka mengelus pelan permukaan celana dalamnya. Ada sensasi aneh menggelenyar dari dalam tubuh. “Lalu, kenapa menghindariku?” Lagi-lagi Arka bertanya tenang. Ia tidak melepaskan tangan wanita itu meski Kanya berusaha melepaskan diri. “Arka, ingat ini di koridor. Bagaimana kalau ada yang lihat?” Menengok sekeliling yang sepi, Arka menatap wajah panik Kanya dan berucap pelan. “Persetan!” Dengan sedikit memaksa, ia mengangkat dagu Kanya dan melancarkan ciuman ke bibir wanita itu. Ia melumat dan menjilat, berusaha agar Kanya membalas ciumannya. Meski sadar diri, ia tak selihai orang lain dalam berciuman tapi ia berusaha. Satu tangan mengikat lengan Kanya ke belakang tubuh wanita itu dan satu tangannya kini membelai lembut area intim wanita itu. Kanya mengerang dan tanpa sadar membalas ciuman Arka, saat tangan pemuda itu bergerak makin lincah. Kali ini bahkan menyusupkan jemarinya ke dalam celana dan membelai lembut kewanitaannya. Ia menegang dalam gairah, saat jari Arka kini makin berani dan membuatnya tanpa sadar membuka paha lebih lebar. Ia menginginkan lebih dan meski malu mengakui, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. “Kamu lembut, Kak dan basah,” bisik Arka di sela-sela ciuman mereka. “Ini pertama kalinya aku menyentuh area intim wanita.” “Arka, hentikan,” ucap Kanya lemah. “Kenapa? Kamu nggak suka?” Selesai berucap, Arka menurunkan celana dalam Kanya dan membuka paha wanita itu lebih lebar. Didasari insting untuk memberikan kepuasan, ia membelai dan menyentuh dengan lembut. Merasakan permukaan kulit yang hangat dan tubuh Kanya yang menegang. Ia pun ikut menegang karena gairah. “Kak, kamu suka?” tanyanya terbata. Ia mengamati bagaimana Kanya menggigit bibir bawah dan secara perlahan ia melepaskan tangan wanita itu. Saat tangannya bebas, Kanya mengalungkan lengannya ke leher Arka dan mereka kembali berciuman dengan intens. Melihat celah untuk bertindak lebih jauh, Arka mulai menyentuh titik paling sensitif di antara pangkal paha Kanya, seketika menghentikan tautan bibir mereka. Gerakan jemarinya yang intens dan berulang membuat Kanya mengerang panjang, tubuhnya bergetar mengikuti ritme tangan Arka. Mereka kehilangan jejak waktu dalam cumbuan panas itu. Kanya merasa akal sehatnya benar-benar lumpuh oleh rasa ingin yang meluap-luap. Kini, celana dalamnya sudah melorot hingga ke betis, sementara kancing bajunya telah terbuka lebar. Arka terus menghujani leher dan d**a bagian atas Kanya dengan kecupan basah, sementara tangannya tidak sedetik pun berhenti membelai area intim yang kian memanas. Saat ia menginginkan lebih dan berniat mengundang masuk pemuda itu, Arka menghentikan gerakannya. Ia terdiam, dengan napas terengah dan menatap Arka yang membantunya merapaikan pakaiannya. “Kamu cantik dan sexy, Kak. Melihatmu rasanya ingin mencium dan mencumbu tiada henti. Tapi, aku sadar kalau bukan aku yang pantas melakukan itu.” Perkataan Arka membuat Kanya mengernyit bingung. “Maksudmu apa?” Arka tersenyum, menyibakkan rambut Kanya “Laki-laki yang di bawah tadi tampan. Apa dia pacarmu?” “Hah! Dia—,” “Nggak usah dijawab. Aku paham, kok. Oh, besok aku akan sidang skripsi.” Arka menundukkan wajah dan mengulum mesra bibir Kanya. “Terima kasih untuk ciumannya. Anggap sebagai penyemangatku besok. Semoga kamu bahagia, Kak.” Kanya berdiri terpaku di tengah lorong yang mendadak terasa sangat sunyi. Belum sempat ia mencerna dengan benar setiap kata yang baru saja diucapkan Arka, pemuda itu sudah berbalik dan menghilang dengan cepat di balik pintu. Ia ditinggalkan sendirian dalam keheningan yang menyesakkan, hanya ditemani suara detak jantungnya sendiri yang masih berpacu tidak beraturan. Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Kanya berkali-kali mendesah resah, berusaha keras menenangkan gejolak panas yang masih tertinggal di seluruh permukaan kulitnya. Ada rasa tidak nyaman sekaligus gairah yang masih berdenyut di sana, sisa dari interaksi mereka yang sangat intens tadi. Dalam hati, ia merasa sangat bodoh karena telah salah menilai. Selama ini, ia menganggap Arka hanyalah pemuda lugu yang pendiam dan tidak berbahaya. Namun, sentuhan dan keberanian Arka barusan membuktikan sebaliknya. Pemuda itu sanggup membuatnya kehilangan kendali dan merasa sangat menginginkan sentuhan lebih. Kanya menyadari bahwa kali ini ia benar-benar telah keliru mengenali sosok yang ada di hadapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD