BAB 7

1320 Words
“Arka, stop!” Kanya menggeliat, melepaskan diri dari pelukan Arka, tepat saat pemuda itu sedang menciumi area perutnya. “Ke—kenapa, Kak?” tanya Arka linglung. Ia terlihat seperti orang mabuk. “Aku belum mandi, tadi ketiduran.” “Tapi, wangi kok!” “Hah, penciumanmu rusak! Awas, sana minggir!” “Sumpah, Kak. Wangi.” Tidak memedulikan protes Arka, Kanya menyingkirkan tubuh pemuda itu dan bangkit dari sofa. Ia menarik napas panjang, berusaha menyingkirkan gelenyar yang dirasakan di setiap sel tubuhnya. Sentuhan Arka seperti membangkitkan gairah yang sudah lama terpendam. Ada rasa bingung tapi juga takut secara bersamaan. Ia menatap Arka yang terduduk dengan wajah bingung dan rambut kusut. Entah kenapa justru terlihat menggemaskan. Kanya menggigit bibir bawah, menahan keinginan untuk menubruk dan mengecup pemuda di depannya. Ia harus menahan diri, bagaimana pun mereka baru saling mengenal. Usia Arka yang jauh lebih muda darinya juga sesuatu yang harus dipikirkan. “Aku pulang dulu,” Merapikan daster dan rambut, ia lalu berbalik menuju pintu. “Kak, jangan marah.” Mendadak Arka bangkit dan merengkuh tubuhnya dari belakang. “Kamu marah sama aku?” bisiknya di telinga Kanya. “Nggak, aku cuma mau mandi,” jawab Kanya. “Bisa mandi di rumahku.” Kanya menoleh heran. “Hei, usul apa itu. Udah sana tidur lagi. Aku mau pulang!” “Kak, boleh minta nomor ponselmu?” Arka berteriak putus asa. Ia sedikit lega saat Kanya menyebutkan angka-angka dan ia buru-buru mencatatnya di ponsel. Kali ini Kanya benar-benar pergi, meninggalkan Arka termenung sendiri di ruang tamunya yang sepi. Ia kembali mengenyakkan diri di atas sofa dan mengusap wajah serta rambutnya. Merasakan bukti gairah dari balik celana panjang yang dipakai. Pertama kalinya ia merasakan hasrat menggebu untuk memeluk dan mencumbu seorang wanita. Saat melihat Kanya tergolek di atas sofa, hasratnya sebagai laki-laki tergugah. Hingga akhirnya, memberanikan diri untuk mencumbu wanita itu. Ia mendesah, menahan frustrasi karena begitu menginginkan tubuh Kanya. Tentang betapa lembut kulit wanita itu, betapa bibirnya sungguh menggiurkan untuk dicium dan juga dadanya yang indah. Memaki dalam hati, Arka bangkit dari sofa dan melangkah menuju jendela. Mengamati pemandangan malam dari balik kaca. Ia ingat, pertama kali mencumbu wanita saat masih SMA. Dengan pacar pertamanya, itu pun hanya berupa ciuman dan juga cupang di leher. Mereka masih terlalu takut waktu itu. Namun, saat bersama Kanya rasanya berbeda. Keinginan untuk mencumbu dan merayu begitu kuat. Arka merasa benci dengan diri sendiri dan takut membuat Kanya marah karena sikapnya yang penuh nafsu. *** Di dalam kamar mandi, dengan shower mengucur deras membasahi tubuh, Kanya termenung. Merasakan air menyentuh lembut kulitnya. Ia masih terpikir soal Arka dan sentuhan mereka. Ia mengaku tergugah, tapi ada satu hal yang harus ditahan bahwa mereka berbeda. Ia berjanji dalam hati, akan lebih hati-hati menghadapi Arka karena yakin jiwa muda yang membuat pemuda itu lupa diri. Setelah kejadian malam itu di rumah Arka, Kanya tidak lagi berniat menemui pemuda itu. Tidak juga membalas pesan dan telepon dari pemuda itu untuknya. Ada perasaan segan yang menghantuinya. Bisa jadi juga rasa kikuk dan bingung. Ia perlu waktu untuk menelaah keinginannya sendiri karena merasa hubungannya dengan Arka berkembang terlalu terburu-buru. Ia tidak tahu, apakah Arka atau justru dirinya yang mengejar. Yang pasti, ia akan berusaha lebih hati-hati kali ini karena tidak ingin menjerumuskan anak muda dalam hubungan yang aneh dengannya. Ia sadar diri untuk itu. Senin yang sibuk, Kanya berkutat dengan pekerjaan hingga nyaris lupa waktu makan. Menjelang pukul tiga sore, saat perutnya berkriuk minta diisi, ia bangkit dari kursi dan berniat mencari makan siang. Di teras kantor, tanpa sengaja bertemu dengan pengacara yang kebetulan berada di lingkungan ruko yang sama dengannya. Meski begitu, mereka jarang bertemu. Hanya sesekali saling menyapa jika berjumpa. Sama seperti sebelumnya, Raphael terlihat tampan dengan setelan kerja dan jas hitam. Laki-laki pertengahan tiga puluhan itu menawan dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Mengapit tas hitam besar, laki-laki itu menyapa ramah. “Hai, bagaimana kabarmu? Biar pun tetangga jarang ketemu kita.” Kanya tertawa. “Iya, nih. Maklum Pak Pengacara ‘kan sibuk.” “Aku selalu siap kalau kamu kontek aku. Masalahnya kamu nggak ada inisiatif hubungi aku. Jadi, aku harus bagaimana, Kanya.” “Emang mau ngapain Pak Pengacara?” Raphael tersenyum, mencopot kacamata dan mengedipkan sebelah mata. “Mau ajak kamu makan. Bisa malam ini?” “Malam ini?” “Iya, sekaligus bahas masalah Sasha. Kamu tahu dia mengirim gugatan baru?” Mata Kanya melotot kaget. Ia ternganga lalu menggeleng. “Nggak tahu. Apalagi kali ini.” “Makanya, kita diskusi. Malam ini bisa?” Menimbang sesaat Kanya mengangguk. “Bisa, kebetulan mobil lagi di bengkel.” “Siip, jam 7.30, ya.” Kanya menghabiskan sisa harinya dengan banyak melamun. Pikirannya terus tertuju pada ucapan Raphael mengenai gugatan hukum yang dilayangkan oleh Sasha. Jujur saja, ia merasa sangat lelah karena masalah ini seolah tidak ada habisnya. Kanya ingin hidup tenang, namun mantan teman dekatnya itu sepertinya belum puas jika belum melihatnya jatuh. Padahal, saat ini mereka sudah menempuh jalan masing-masing dengan mengelola brand yang berbeda dan tidak lagi saling bersinggungan secara langsung. Sesuai kesepakatan yang dibuat sebelumnya, Kanya akhirnya menemui pengacaranya tepat waktu. Laki-laki tampan itu mengajaknya makan malam di sebuah restoran steak yang letaknya tidak begitu jauh dari apartemen miliknya. Mereka duduk berhadapan dalam suasana restoran yang cukup nyaman untuk berbincang mengenai masalah serius yang sedang mereka hadapi. Masing-masing dari mereka memesan menu steak yang disajikan panas di atas hot plate. Aroma daging yang terbakar tercium kuat saat pelayan meletakkan pesanan mereka, lengkap dengan makanan pendamping berupa salad segar dan kentang goreng yang masih hangat. Meski makanan di depannya terlihat menggugah selera, pikiran Kanya masih terasa berat oleh tekanan hukum yang mengancam posisinya saat ini. “Jadi, aku harus bagaimana soal gugatan Sasha?” tanya Kanya sambil mengiris daging di atas piringnya. “Aku yang akan menghadapinya. Dia itu panik karena kalah jadi kurasa sedang menggertak.” “Naik banding?” “Betul. Jadi kamu nggak usah takut. Kalau beneran dia mau naik banding, aku yakin kesempatan untuk menang juga sedikit.” Kanya mendesah, selera makannya hilang seketika. Persoalan dengan Sasha membuat perutnya bergolak tidak enak. “Kenapa tidak dimakan?” tegur Raphael. Menghela napas panjang, Kanya meletakkan pisau dan garpunya. “Aku nggak punya banyak uang buat bayar kamu.” “Hei, kamu mikirin uang?” “Iyalah, tentu saja. Emangnya kantor pengacara kamu itu badan sosial?” Tersenyum penuh pengertian, Raphael mengulurkan tangan dan menggenggam jemari Kanya di atas meja. Ia menatap wanita di depannya dengan wajah berbinar. “Kamu bicara soal uang kayak orang lain saja. Tenang kalau sama aku.” “Tapi, aku nggak bisa—,” “Aku akan membantumu, apa pun yang terjadi. Kita kesampingkan dulu masalah uang.” Kanya tidak menjawab pernyataan Raphael. Kegundahan menyelimuti hati bahkan saat laki-laki itu mengantarnya pulang, Tidak peduli seberapa besar Raphael mencoba menghiburnya, ia tetap merasa gamang. Soal hukum dan uang adalah masalah pelik dalam hidup. Asyik melamun, tanpa sadar mobil Raphael sudah memasuki parkiran apartemennya. Ia turun di lobi dan mengucapkan terima kasih pada laki-laki di belakang kemudi. “Terima kasih banyak untuk malam ini, Raphael.” “Hei, jangan sungkan begitu. Aku senang kok makan ditemani kamu.” “Baiklah, kalau gitu aku akan sering-sering menguras uangmu.” “Anytime, Sayang.” Selesai berbasa-basi mengucapkan terima kasih, Kanya menegakkan tubuh. Saat itulah pintu mobil terbuka dan Raphael memutari kendaraan menuju ke hadapannya. “Ini buat kamu, tadi siang beli tapi lupa ngasih.” Sekotak coklat diulurkan Raphael pada Kanya. “Makasih, aku ngrepotin banget.” “Nggak kok, asal kamu mau sering-sering temani aku. Itu udah hal yang luar biasa.” Kanya tertawa. Ia melambaikan tangan saat mobil Raphael beranjak pergi. Memegang kotak coklat di tangan ia berbalik dan tertegun. Tidak jauh dari pintu kaca, Arka berdiri dengan wajah kaku dan menatapnya tajam. Tanpa kata-kata, pemuda itu membalikkan tubuh dan masuk melewati pintu. “Arkaaa!” Kanya berteriak. Namun, Arka seperti tidak mendengar panggilannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD