1. Malam Penyerahan
Ririn nyaris tidak percaya ketika Aldo menghampirinya sore itu.
“Bersiaplah. Kita keluar malam ini.”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir suaminya, dingin, singkat, tanpa penjelasan. Namun justru karena itulah jantung Ririn berdegup lebih cepat. Sejak dua bulan pernikahan mereka, jangankan bulan madu, pergi keluar berdua saja tidak pernah terjadi. Bahkan berbincang pun sering terasa seperti kewajiban.
“Keluar?” ulang Ririn pelan, memastikan ia tidak salah dengar.
Aldo tidak menjawab. Ia hanya meletakkan sebuah kotak di atas meja.
“Pakai ini.”
Ririn menatap kotak itu ragu, lalu membukanya perlahan. Sebuah gaun hitam terlipat rapi di dalamnya, pas di tubuh, dengan potongan yang jujur saja, terlalu berani untuk seleranya. Seksi. Jauh dari pakaian yang biasanya ia kenakan, anggun dan sopan.
“Mas Al… ini terlalu terbuka,” ucap Ririn pelan. Jari-jarinya bergetar saat menyentuh kain halus itu.
Untuk sesaat, Aldo menatapnya. Tatapan yang sulit ia baca, bukan hangat, bukan pula marah.
“Pakai saja,” katanya singkat.
Ririn menelan ludah. Hatinya diliputi kebahagiaan kecil yang nyaris terasa memalukan. Mungkin ini caranya menunjukkan perhatian. Mungkin Aldo mulai berubah. Atau… mungkinkah ini ajakan bulan madu yang tidak pernah mereka miliki? Mengarungi Malam Pertama mereka.
Demi mendapatkan sedikit ruang di hati suaminya, Ririn pun mengangguk, menyingkirkan keraguannya sendiri.
Ia tidak tahu, itu adalah awal dari kesalahan terbesarnya.
Ia terlalu mencintai dan mempercayai Aldo.
Mobil melaju dalam keheningan. Lampu-lampu kota berkelebat di balik jendela, sementara Ririn sesekali melirik Aldo yang menyetir dengan wajah kaku. Tidak ada percakapan. Namun Ririn memilih menikmati momen langka itu, seolah keheningan ini adalah kebahagiaan.
Sampai akhirnya mobil berhenti di depan sebuah hotel mewah.
Ririn tertegun.
“Mas Al…?” Ia menatap bangunan megah itu dengan d**a berdebar. “Kenapa ke sini?”
Aldo sudah turun lebih dulu. “Ikut saja.”
Langkah Ririn melambat saat mereka memasuki lobi berkilau. Semuanya tampak terlalu mahal, terlalu berlebihan, terutama untuk kondisi mereka sekarang. Ririn tahu betul usaha Aldo sedang goyah. Ia sering mendengar percakapan telepon bernada tegang, bahkan ancaman yang berusaha Aldo sembunyikan darinya.
Namun kini, Aldo justru membawanya ke tempat semewah ini.
Kecurigaan mulai merambat ketika Aldo menekan kartu akses dan membuka pintu sebuah kamar yang jauh lebih mewah dari bayangannya.
Jantung Ririn berdegup tidak karuan.
Ada sesuatu yang salah.
Dan entah mengapa, gaun yang melekat di tubuhnya kini terasa bukan lagi pakaian, melainkan belenggu.
*******
Ririn berdiri kaku di tengah kamar itu.
Sejak menikah, Aldo tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kecupan sebelum tidur, bahkan sentuhan sederhana pun jarang terjadi. Bahkan Aldo jarang berada di tempat tidur yang sama dengannya. Ririn selalu meyakinkan dirinya sendiri, Aldo hanya pria yang kaku, sulit mengekspresikan perasaan.
Malam ini… mungkin berbeda.
“Mas Al,” panggil Ririn pelan ketika pria itu menutup pintu kamar. “Kenapa kita ke sini?”
Aldo tidak langsung menjawab. Ia membuka jasnya, lalu berbalik dengan ekspresi yang membuat Ririn kembali gugup.
“Kamu percaya padaku, kan?”
Pertanyaan itu membuat Ririn terdiam sesaat. Lalu ia mengangguk. Selalu begitu. Ia selalu percaya.
Aldo melangkah mendekat. Jarak mereka begitu dekat hingga Ririn bisa mencium aroma parfum asing dari tubuh suaminya. Jantungnya berdegup kencang, campuran gugup dan harap.
Namun tiba-tiba, Aldo meraih pergelangan tangannya.
“Mas Al-Aldo?” Ririn refleks menarik tangannya, terkejut.
“Diam,” ucap Aldo cepat. “Ini kejutan.”
Tali dingin melingkar di pergelangan tangan Ririn sebelum ia sempat bereaksi. Ririn tersentak, napasnya tercekat saat Aldo mengikat kedua tangannya dengan cukup kuat.
“Mas Al! Lepaskan! Aku tidak suka ini,” suara Ririn mulai bergetar.
Untuk pertama kalinya, Ririn merasa takut pada suaminya sendiri.
Aldo berhenti sejenak, lalu berkata dengan nada datar, “Kamu terlalu tegang. Percaya saja.”
Ririn menggeleng, air mata mulai menggenang. “Aku tidak pernah melakukan ini… mas, tolong.”
Namun Aldo sudah mengambil sehelai kain hitam.
“Mas Al, jangan!”
Kain itu menutup matanya.
Dunia Ririn mendadak gelap.
Panik langsung menyeruak. Napasnya memburu, dadanya sesak. Ia mencoba menggerakkan tangan, tapi ikatan itu tidak memberi ruang.
“Mas Al!” serunya, suaranya bergetar hebat. “Ini bukan kejutan. Ini menakutkan!”
Aldo berdiri di hadapannya beberapa detik. Ririn bisa merasakan kehadirannya, tapi tidak bisa melihat apa pun.
“Kamu akan mengerti nanti,” ucap Aldo dingin. “Tunggu saja.”
Langkah kaki itu menjauh.
Pintu kamar terbuka… lalu tertutup kembali.
Dan saat itu, Ririn sadar-
Ia ditinggalkan sendirian. Terikat. Buta.
Dengan gaun yang dipilihkan suaminya sendiri.
*******
Udara di sekitar Ririn terasa berubah.
Ada pergerakan. Sangat pelan, nyaris tidak terdengar. Namun cukup untuk membuat napas Ririn tertahan. Ia bisa merasakan jarak yang semakin dekat, bukan melalui suara, melainkan melalui insting yang berteriak di kepalanya.
Sesuatu menyentuh ujung jarinya.
Ririn tersentak, refleks mencoba menarik tangan, namun ikatan itu menahannya. Detik berikutnya, sentuhan itu berpindah ringan, sengaja diperlambat, seolah pemiliknya ingin memastikan Ririn benar-benar menyadari kehadirannya.
Jantung Ririn hampir melompat keluar.
Lalu, kain hitam di matanya ditarik perlahan.
Cahaya menyilaukan sesaat membuat Ririn memejam refleks. Saat ia kembali membuka mata, sosok seorang pria berdiri tepat di hadapannya.
Tinggi. Tegap. Wajahnya tenang, nyaris santai.
Namun yang membuat Ririn membeku bukan penampilannya, melainkan sorot matanya dan wajahnya.
Begitu cahaya sepenuhnya kembali ke penglihatannya, napas Ririn tercekat.
Wajah itu.
Bukan wajah asing.
Dunia seakan berhenti berputar ketika ingatan lama menghantamnya tanpa ampun, koridor kampus, tatapan yang terlalu lama, pengakuan yang ia tolak dengan halus namun tegas.
“Kak Gerald…” nama itu lolos begitu saja dari bibirnya, hampir seperti bisikan.
Senyum tipis di wajah pria itu semakin jelas, seolah pengakuan itu adalah sesuatu yang telah lama ia tunggu.
“Kau masih mengingatku,” katanya pelan, puas.
Dada Ririn terasa sesak. Tangannya yang terikat bergetar hebat. Dari sekian banyak kemungkinan buruk yang sempat terlintas di kepalanya, ini adalah yang paling tak pernah ia bayangkan.
Gerald.
Pria yang pernah menyukainya saat kuliah.
Pria yang perasaannya ia tolak karena ia takut dan jijik dengan pria itu.
“K-kenapa kamu di sini?” suara Ririn nyaris runtuh. “Ini… ini salah.”
Gerald menatapnya lama. Tatapan itu bukan marah, bukan pula penuh dendam. Justru terlalu tenang, ketenangan yang membuat Ririn semakin takut.
“Salah?” Gerald mengulang pelan. “Tidak, Ririn. Ini tepat.”
Ia melangkah mendekat satu langkah. Tidak menyentuh. Tidak tergesa. Namun jarak itu cukup membuat Ririn menahan napas.
“Kau mungkin lupa,” lanjutnya tenang,
“tapi aku tidak pernah melupakan perkataanmu.”
Air mata Ririn jatuh tanpa bisa ditahan. “Aku sudah menikah, kak Gerald. Tolong… lepaskan aku.”
Gerald menunduk sedikit, menyamakan tinggi wajah mereka. Senyum tipis itu masih ada.
“Aku tahu,” ujarnya pelan. “Justru karena itu kau ada di sini.”
Kalimat itu menghantam Ririn lebih keras dari tamparan apa pun.
Kenyataan pahit perlahan menyusun dirinya sendiri di kepalanya, hotel mewah, gaun yang dipilihkan Aldo, ikatan di tangannya, dan kini… Gerald, kakak kelas nya di kampus.
Suaminya sendiri telah menyerahkannya.
Bukan pada orang asing.
Melainkan pada masa lalu yang pernah ia tolak.
Dan saat itu, Ririn sadar,
Penolakan yang dulu ia anggap selesai…
ternyata baru saja dimulai balasannya.
Bersambung.........