2. Aku Milik Obsesi

1135 Words
Tanpa Ririn sadari, tatapan Gerald di hadapannya menyeret pikirannya jauh ke masa lalu. Ke masa ketika ia masih duduk di bangku kuliah. Gerald selalu menjadi pusat perhatian di kampus. Wajah tampan, senyum malas yang seolah tidak pernah kehabisan percaya diri, dan reputasi nakal yang membuat banyak perempuan berlomba mendekat. Ia berasal dari keluarga konglomerat, nama keluarganya cukup untuk membuka pintu apa pun di kota itu. Dan entah sejak kapan, Gerald memilih Ririn sebagai targetnya. Padahal sejak dulu, hati Ririn hanya tertambat pada satu nama, Aldo. Teman bermainnya sejak kecil. Anak laki-laki yang tumbuh bersamanya, yang sering mengajaknya berlarian di halaman rumah, yang pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang saat mereka masih bocah. Bahkan ibu Aldo berkali-kali berkata sambil tertawa bahwa suatu hari nanti, Ririn akan menjadi menantunya. Ucapan itu tidak pernah diikat janji apa pun. Namun entah bagaimana, kata-kata itu tumbuh bersama Ririn, melekat begitu saja. Menjadi harapan yang ia anggap wajar. Menjadi keinginannya sendiri untuk menikah dengan Aldo saat dewasa nanti. Itulah sebabnya, ketika Gerald mulai mendekatinya di kampus, Ririn selalu berusaha menghindar. Ia tahu betul pengaruh pria itu. Dan ia tidak ingin masalah-terlebih jika sampai telinga Aldo mendengar hal-hal yang tidak ia inginkan. Namun Gerald bukan tipe pria yang menerima penolakan dengan mudah. Ia semakin berani. Semakin mendesak. Tatapannya selalu terlalu lama, jaraknya selalu terlalu dekat. Hingga suatu hari, di tempat sepi yang tidak pernah Ririn bayangkan akan menjadi mimpi buruk, Gerald menciumnya dengan paksa. Ingatan itu membuat perut Ririn kembali terasa mual. Sejak saat itu, rasa jijik pada Gerald tumbuh tanpa bisa ia kendalikan. Apalagi Lila, teman baiknya saat dulu, sering memperingatkannya. Tentang daftar panjang perempuan yang pernah didekati Gerald. Tentang reputasinya sebagai playboy kampus yang tidak pernah serius pada siapa pun. Namun puncaknya adalah hari itu. Hari ketika Gerald menyatakan perasaannya di hadapan banyak orang. Membawa bunga, sekotak perhiasan mahal, dan senyum penuh kemenangan, seolah Ririn tak punya pilihan selain menerima. Ririn gemetar. Bukan karena terharu, melainkan takut. Takut Aldo tahu. Takut hidupnya berubah. Takut masa depan yang ia bayangkan runtuh seketika. Ketakutan itu berubah menjadi kemarahan. “Sampai di dunia ini hanya ada satu laki-laki yang tersisa,” ucap Ririn lantang, suaranya bergetar namun tegas, “aku lebih memilih tidak menikah selamanya!” Ia mengibaskan hadiah dari tangan Gerald, menjatuhkannya ke lantai, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi. Namun langkahnya terhenti sesaat ketika suara itu mengejarnya, dingin, rendah, dan penuh ancaman. “Suatu hari,” ujar Gerald, “...aku akan membuatmu bertekuk lutut di bawahku, perempuan sombong.” Ririn tidak pernah menoleh. Dan untungnya, tidak lama setelah itu Gerald diwisuda. Lulus. Pergi. Sejak hari itu, Ririn tak pernah lagi bertemu dengannya. Dan Ririn pikir selamanya dia sudah aman. Sampai malam ini. Sampai saat ia terikat di kamar hotel mewah, berhadapan dengan pria yang dulu pernah ia tolak dan kini menatapnya dengan ketenangan yang membuat darahnya terasa membeku. Masa lalu yang ia kira telah berakhir… ternyata hanya menunggu waktu untuk kembali. Ancaman itu kembali terngiang di telinga Ririn. Suatu hari aku akan membuatmu bertekuk lutut di bawahku. Dada Ririn terasa sesak. Napasnya tercekat, seolah kata-kata itu kini menjelma nyata di hadapannya. Tangannya yang terikat bergetar hebat, sementara matanya tudak lepas dari wajah Gerald, wajah yang dulu ia anggap masa lalu, kini berdiri sebagai mimpi buruk. “Apa yang kau ingat, Ririn?” tanya Gerald pelan, seakan bisa membaca pikirannya. Senyum tipis itu kembali terukir di bibirnya. “Kata-katamu dulu… masih segar di kepalaku.” Ririn menggeleng cepat. “Itu… itu dulu. Aku sudah punya suami, kak Gerald.” Ucapan itu membuat Gerald tertawa pelan. Bukan tawa keras, melainkan tawa rendah yang membuat bulu kuduk Ririn meremang. “Suami?” Gerald mengulang, lalu menatapnya seolah Ririn baru saja mengucapkan lelucon paling konyol. “Kalau begitu, kau benar-benar salah memilih.” Ririn menelan ludah. “Mas Aldo....” “Aldo sudah menjualmu,” potong Gerald dingin. “Dan kau masih membelanya?” Kata-kata itu menghantam Ririn tanpa ampun. Kepalanya berdenyut, dadanya terasa seperti diremas kuat-kuat. Ia ingin menyangkal, ingin percaya semua ini hanya kesalahpahaman. Namun tatapan Gerald tak memberi ruang untuk harapan. “Pada akhirnya,” lanjut Gerald santai, “...yang punya uang dan kuasa selalu menang.” Ia mendekat setengah langkah, cukup dekat untuk membuat Ririn menahan napas. “Dan malam ini, aku yang menang.” “Ini salah…” suara Ririn nyaris tidak terdengar. “Lepaskan aku. Tolong.” Gerald tertawa lagi, kali ini lebih jelas. “Salahkan dirimu sendiri,” ujarnya dingin. “Salah memilih suami.” Ririn memejamkan mata kuat-kuat, air mata mengalir tanpa bisa dicegah. Namun kata-kata Gerald berikutnya membuat tubuhnya membeku. “Bahkan suamimu,” Gerald melanjutkan dengan nada datar namun kejam, “meminta harga lebih tinggi.” Ririn membuka mata lebar-lebar. “A-apa? Kau bohong!” “Katanya kau masih suci,” ujar Gerald tanpa emosi, seolah membicarakan barang dagangan. “Itu alasan dia menaikkan harga.” Dunia Ririn runtuh seketika. Perutnya terasa mual. Dadanya sesak hingga sulit bernapas. Aldo, pria yang ia cintai sejak kecil, yang ia impikan menjadi pelindungnya, telah menjualnya bukan hanya sebagai istri, tetapi sebagai sesuatu yang bisa diberi nilai. Gerald menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Akan kubuktikan malam ini,” ucapnya pelan. Kalimat itu jatuh seperti vonis. Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Ririn benar-benar sadar, Ia bukan hanya dikhianati. Ia telah diperdagangkan. Kata-kata itu masih menggantung di udara ketika Gerald melangkah mundur perlahan. Ririn menatapnya dengan mata basah, tubuhnya gemetar hebat. Dunia yang ia kenal runtuh satu per satu, cinta masa kecilnya, pernikahannya, bahkan harga dirinya sendiri. Gerald mengambil ponselnya dari saku jas. Dengan tenang. Terlalu tenang. Ia menekan layar, lalu mengangkatnya ke arah Ririn. “Lihat,” ujarnya datar. Layar itu menampilkan satu pesan singkat. > Uangnya sudah masuk. Lakukan saja. Aku tidak mau tahu detailnya. Nama pengirimnya jelas terpampang. Aldo. Denyut jantung Ririn seakan berhenti. Ia menggeleng keras, seolah itu bisa menghapus kenyataan di depan matanya. “Tidak… tidak mungkin…” Gerald menyimpan kembali ponselnya, lalu menatap Ririn dengan ekspresi puas yang tidak berusaha ia sembunyikan. “Sekarang kau mengerti,” katanya pelan. “Kau bukan lagi miliknya.” Ia melangkah mendekat. Satu langkah. Lalu berhenti. “Dan malam ini,” lanjutnya dengan suara rendah yang menusuk, setiap katanya terasa seperti pisau di kulit Ririn, “mau atau tidak mau, kau jadi milikku.” Ririn menggeleng lemah, air mata jatuh tanpa suara. Gerald menatapnya lama, lalu tersenyum tipis, senyum kemenangan yang tidak berusaha ia sembunyikan. “Apa pun yang kuinginkan,” ucapnya tenang namun penuh keyakinan, “tidak pernah lepas dari tanganku.” Kata-kata itu jatuh seperti vonis. Lampu kamar perlahan meredup, meninggalkan Ririn dalam cahaya temaram, terikat, gemetar, dan sendirian di hadapan kenyataan yang tidak bisa ia hindari. Dan saat kegelapan sepenuhnya menelan ruangan, satu hal akhirnya Ririn pahami dengan pahit... Ia tidak hanya kehilangan suaminya malam ini. Ia kehilangan hak atas dirinya sendiri. Bersambung..........
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD