3. Dia Menjualku

1306 Words
Gerald sama sekali tidak bereaksi terhadap teriakan Ririn. Permohonan itu jatuh ke lantai kamar, tenggelam bersama keheningan yang sengaja ia biarkan. Wajahnya tidak menunjukkan keraguan sedikit pun, hanya ketenangan yang telah ia siapkan terlalu lama. Ia menunggu momen ini bertahun-tahun. Memiliki Ririn. Bukan dengan cara yang ia impikan dulu, bukan dengan persetujuan, bukan dengan cinta. Tapi dengan cara yang tersisa ketika penolakan berubah menjadi obsesi. “Aku sudah menunggu terlalu lama,” ucap Gerald datar. “Dan aku tidak akan mundur sekarang.” Ririn menggeleng keras, air mata mengalir tanpa henti. Tubuhnya gemetar, napasnya terpotong-putus. “Tolong… hentikan…” Namun Gerald hanya menatapnya, tatapan seseorang yang merasa telah menang. Seolah keputusan telah selesai sebelum Ririn sempat membela diri. “Kesepakatan sudah dibuat,” lanjutnya dingin. “Dan kau tahu itu.” Kata-kata itu menutup ruang terakhir bagi harapan. Ririn menutup mata. Bukan karena menyerah, melainkan karena tidak ada lagi yang bisa ia pegang selain dirinya sendiri. Di antara napas yang tersisa, satu kesadaran pahit menguat di dadanya: Malam ini bukan tentang apa yang ia inginkan. Ini tentang bagaimana kekuasaan bekerja, ketika uang berbicara, dan suara korban tidak lagi didengar. ******* Gerald tersenyum miring mendekati Ririn dan mendorong tubuh itu hingga terlentang di atas tempat tidur mewah itu, tanpa ragu Gerald langsung mengungkung tubuh Ririn yang berada di bawah. Sejak awal Ririn sudah tidak berdaya, terikat, gemetar, dan terjebak dalam ketakutan yang tidak mampu ia lawan. Air mata Ririn jatuh tanpa henti, namun tidak sedikit pun melunakkan wajah pria itu. Setiap gerakan menjauh yang dilakukan Ririn justru disambut dengan tawa rendah yang membuat dadanya semakin sesak. "Kak Gerald....Aku mohon!" “Diam,” ucap Gerald dingin. “Aku sudah menunggu terlalu lama untuk malam ini.” Tatapannya menelusuri Ririn tanpa rasa bersalah, seolah yang ada di hadapannya bukan manusia dengan perasaan, melainkan sesuatu yang telah lama ia klaim sebagai miliknya. “Kau pikir pakaian itu untuk siapa?” lanjutnya dengan nada mengejek. “Jangan berpura-pura suci.” Gerald semakin tersulut, oleh penolakan yang dilakukan Ririn. Gerakannya semakin agresif, membuat Ririn tidak berdaya. Ketika pakaian di tubuhnya satu per satu terlepas, Ririn hanya bisa menahan rasa malu, dan ketakutam. Ini adalah pengalaman pertama yang tidak pernah ia bayangkan, melakukannya dengan pria lain yang sama sekali tidak memiliki hubungan apapun. Ketika Gerald mencengkeramnya, menguasai setiap ruang tanpa memberi kesempatan padanya untuk bernapas. Ketika rasa sakit akhirnya menghantam dan Ririn tidak mampu menahan jeritannya, semuanya sudah tidak bisa diperbaiki. Ririn memejamkan mata, tubuhnya gemetar hebat. Ketakutan telah menguras seluruh tenaganya. Tidak ada lagi perlawanan, hanya keputusasaan yang menyesakkan. Malam itu, sesuatu dalam diri Ririn runtuh. Bukan hanya rasa sakit yang ia rasakan, melainkan kehancuran yang jauh lebih dalam. Apa yang selama ini ia jaga, harga diri, keyakinan, dan kepercayaannya, direnggut oleh pria yang bukan suaminya. Ketika semuanya berakhir, ruangan itu terasa dingin dan hampa. Gerald menarik napas panjang, kepuasan jelas tergambar di wajahnya. Ia tersenyum puas, seolah telah memenangkan sesuatu yang sejak lama ia incar. Sementara Ririn terdiam, air matanya terus mengalir, bukan lagi karena takut, bukan karena sakit fisiknya, melainkan karena hatinya telah hancur sepenuhnya. ******** Gerald berdiri di tepi ranjang, membetulkan kemeja dengan gerakan santai. Napasnya masih sedikit berat, bukan karena lelah, melainkan karena kepuasan yang telah lama ia simpan, kini akhirnya terlampiaskan. Di baliknya, Ririn terdiam. Tubuh perempuan itu meringkuk, tidak bergerak, seolah dunia telah berhenti berputar sejak beberapa menit lalu. Gerald melirik sekilas, lalu tersenyum tipis. Pemandangan itu justru membuat dadanya terasa penuh oleh rasa menang. Akhirnya, batinnya berkata. Perempuan yang merasa terlalu tinggi untukku… akhirnya jatuh juga. Ia tertawa kecil, rendah, nyaris tak bersuara. Betapa lucunya hidup ini. Dulu Ririn menatapnya dengan jijik, menolaknya di depan banyak orang, menghancurkan harga dirinya tanpa ragu. Kata-kata perempuan itu masih ia ingat jelas, setiap hurufnya tertanam rapi dalam ingatan, berubah menjadi dendam yang dipelihara bertahun-tahun. Dan malam ini, dendam itu terbayar lunas. “Aldo memang bodoh,” gumamnya sambil meraih ponsel. “Mengira cinta cukup untuk mempertahankan segalanya.” Ia teringat wajah Aldo saat kesepakatan itu dibuat, pria yang terlalu terdesak, terlalu takut kehilangan segalanya, hingga rela menjual sesuatu yang seharusnya ia lindungi. Bahkan meminta harga lebih tinggi, dengan dalih yang membuat Gerald nyaris tertawa saat itu. Masih suci. Gerald melirik kembali ke arah Ririn. Dan kini, klaim itu telah ia buktikan sendiri. “Pada akhirnya,” ucapnya datar, lebih pada dirinya sendiri, “yang punya uang dan kuasa selalu menang.” Tidak ada rasa bersalah. Tidak juga penyesalan. Yang ada hanya keyakinan dingin bahwa dunia memang berjalan seperti ini, yang lemah akan diinjak, dan yang berkuasa berhak mengambil apa pun yang diinginkannya. Ia mengambil jasnya, bersiap pergi. Namun sebelum melangkah ke pintu, Gerald berhenti sejenak. “Ini baru permulaan,” katanya pelan, nyaris seperti janji. Lalu ia pergi, meninggalkan kamar itu bersama kesunyian yang menelan Ririn sepenuhnya. ******* Ririn tidak tahu sudah berapa lama ia terdiam. Langit-langit kamar itu tampak asing, padahal ia baru saja menatapnya beberapa waktu lalu dengan harapan, harapan bodoh yang kini terasa seperti lelucon kejam. Tubuhnya terasa berat, bukan karena lelah, melainkan karena ada sesuatu di dalam dirinya yang seolah rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Ririn memejamkan mata. Namun gelap tidak pernah benar-benar pergi. Suara Gerald, tawanya, kata-katanya, semuanya masih bergema di kepalanya, berulang-ulang, tanpa ampun. Ancaman lama yang dulu ia anggap sekadar luapan emosi pria yang ditolak, kini menjelma kenyataan yang menghancurkan. Suatu hari aku akan membuatmu bertekuk lutut di bawahku. Dadanya sesak. Air mata mengalir tanpa suara, membasahi pelipis. Ia bahkan tak punya tenaga untuk menghapusnya. Tangannya gemetar ketika ia mencoba bergerak, lalu berhenti. Setiap sentuhan kecil pada tubuhnya sendiri justru membuatnya ingin muntah. Bukan karena sakit. Tapi karena sadar… Ia telah dikhianati. Oleh pria yang paling ia percayai. Aldo. Nama itu berputar di kepalanya, menyayat lebih dalam daripada apa pun yang dilakukan Gerald. Ririn menggigit bibirnya, menahan isak yang memaksa keluar. Ia ingin berteriak, memanggil nama suaminya, menuntut penjelasan, namun yang tersisa hanyalah kehampaan pahit. Dia menjualku. Kesadaran itu menghantamnya telak. Ia teringat masa kecil mereka. Tawa di halaman rumah. Janji-janji tidak terucap. Tatapan Aldo saat menyelamatkannya dari kolam renang, tatapan yang dulu ia yakini sebagai awal dari segalanya. Ternyata semua itu tidak lebih dari ilusi. Ririn memejamkan mata lebih lama. Ia seharusnya tahu sejak awal. Seharusnya sadar bahwa hati Aldo tidak pernah benar-benar kosong saat menikahinya. Nama itu, Lila-teman baiknya selalu ada, meski tidak pernah diucapkan. Dalam tatapan Aldo yang dingin, dalam jarak yang tidak pernah mau dipersingkat, dalam sentuhan yang tidak pernah datang. Namun Ririn memilih menutup mata. Apalagi Lila berkali-kali berkata padanya kalau ia tidak ada perasaan apapun pada Aldo. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa cinta bisa tumbuh seiring waktu. Bahwa dukungan orang tua Aldo akan cukup kuat untuk mengikat hati pria itu padanya. Apalagi mereka telah berteman sejak kecil, berbagi masa lalu, tawa, dan kenangan yang ia kira berarti lebih dari sekadar kebiasaan. Ia salah. Cinta tidak bisa dipaksa. Dan pernikahan tanpa cinta hanya melahirkan kehancuran. Kini semuanya runtuh. Harapan yang ia jaga bertahun-tahun, keyakinan yang ia peluk dengan keras kepala, semuanya hancur dalam satu malam. Aldo tidak pernah memilihnya. Bahkan sejak awal, ia hanya sebuah alat. Sebuah jalan keluar. Sebuah harga. Air mata kembali jatuh, kali ini lebih sunyi, lebih pahit. Bukan lagi karena takut. Melainkan karena sadar… Ia telah mencintai sendirian. Dan cinta itu telah membawanya pada kehancuran yang tidak pernah ia bayangkan. Cinta yang ia rawat bertahun-tahun, kehormatan yang ia jaga dengan ketakutan dan kesetiaan, semuanya lenyap dalam satu malam, di tangan pria yang bukan suaminya, dengan restu dari suaminya sendiri. Ririn menggulung tubuhnya, memeluk diri sendiri seolah itu satu-satunya cara agar ia tidak hancur sepenuhnya. Ia merasa kotor. Rusak. Tak bernilai. Namun di balik rasa sakit itu, perlahan muncul sesuatu yang asing, bukan tangis, bukan ketakutan. Amarah. Bukan pada Gerald saja. Tapi pada Aldo. Pada dunia yang mempermainkannya. Dan pada dirinya sendiri… yang terlalu percaya bahwa cinta cukup untuk hidup bahagia. Bersambung.........
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD