Layar ponsel itu menyala.
Aldo menatap deretan angka yang baru saja masuk ke rekeningnya. Notifikasi transfer itu masih terasa tidak nyata, seolah hanya bayangan. Namun saldo yang bertambah drastis membuktikan segalanya, uang itu benar-benar sudah menjadi miliknya.
Ia menghela napas panjang.
Selesai.
Di sampingnya, Lila ikut melirik layar ponsel itu. Senyum puas langsung terbit di wajahnya, tanpa sedikit pun ia coba sembunyikan.
“Akhirnya,” ucap Lila ringan. “Masalahmu beres juga.”
Aldo mematikan layar dan meletakkan ponsel di atas meja. Dadanya terasa lebih ringan. Tekanan berminggu-minggu seakan terangkat dalam satu kedipan mata. Perusahaan mungkin belum sepenuhnya aman, tapi setidaknya ia punya waktu. Punya pegangan.
Dan semua itu… sudah ditebus.
Lila mendekat, meraih lengannya. “Sekarang aku percaya padamu, Al.” katanya lembut namun penuh kemenangan.
“Pernikahan itu memang tidak pernah berarti apa-apa bagimu.”
Aldo diam sesaat, lalu mengangguk.
“Sejak awal aku menikahinya hanya karena terpaksa,” ujarnya datar. “Orang tuaku. Warisan. Tidak lebih.”
Lila tersenyum lebar.
Kalimat itu seperti kunci terakhir yang ia tunggu. Keyakinan di matanya mengeras, berubah menjadi kepastian. Kini ia tidak lagi merasa tersaingi oleh nama Ririn, istri sah yang juga teman akrabnya, yang selalu mengusik pikirannya. Perempuan yang sudah berhasil menarik perhatian pria yang dia sukai,
“Jadi benar,” kata Lila puas. “Dia cuma alat.”
Aldo tidak menyangkal.
Bayangan Ririn sempat melintas di benaknya, wajahnya yang selalu berusaha tersenyum, caranya menunggu, caranya berharap. Namun Aldo cepat menyingkirkan pikiran itu.
Cinta tidak pernah ada, salahnya sendiri. Aku sudah bilang kalau aku hanya menganggap dia adik, tidak lebih! hiburnya pada diri sendiri.
Dia tahu risikonya sejak menikah denganku.
Lila menyandarkan kepala di bahunya, merasa menang sepenuhnya. “Sekarang sudah jelas,” bisiknya. “Hatimu memang bukan untuknya.”
Aldo menatap kosong ke depan.
Uang sudah di tangannya.
Perempuan yang ia cintai ada di sisinya.
Dan Ririn,
hanya bagian dari masa lalu yang telah ia tukar dengan angka di rekening.
Ia menggenggam ponselnya sekali lagi, memastikan saldo itu nyata.
“Ya,” ucapnya pelan.
“Semua sudah selesai.”
Tanpa Aldo sadari…
itulah saat di mana segalanya benar-benar mulai hancur.
*******
Aldo terbangun mendadak.
Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Lampu kamar masih mati, hanya cahaya kota yang masuk samar dari balik tirai. Ia mengusap wajahnya perlahan, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Hanya mimpi.
Namun mimpi itu terasa terlalu nyata.
Dalam tidurnya, ia melihat Ririn berdiri di hadapannya. Tidak menangis. Tidak berteriak. Perempuan itu hanya menatapnya, diam, seolah seluruh perasaan telah habis terkuras.
“Kau dapat apa yang kau mau, Aldo,” suara itu terdengar jelas. “Sekarang hiduplah dengannya.”
Aldo terbangun tepat saat Ririn membalikkan badan dan pergi.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ini pertama kalinya sejak semua itu terjadi, wajah Ririn muncul dalam tidurnya. Ia tidak tahu mengapa justru sekarang, saat semuanya seharusnya terasa lebih ringan.
Di sampingnya, Lila masih tertidur. Wajahnya tampak tenang, bahkan bahagia. Aldo menoleh sekilas, lalu bangkit pelan agar tidak membangunkannya.
Ia berdiri di dekat jendela, menatap lampu-lampu kota.
Hanya mimpi, yakinnya pada diri sendiri.
Aku baik-baik saja.
Namun ada rasa ganjil yang tertinggal di dadanya.
********
Pagi harinya, Lila tampak ceria. Ia bersenandung kecil sambil menuang kopi, seolah malam tadi tak menyisakan apa pun selain kenyamanan.
“Kau jarang menginap,” katanya ringan. “Aku suka begini.”
Aldo mengangguk singkat.
Lila mendekat, menyentuh lengannya. “Sekarang keadaanmu sudah lebih baik, kan?”
“Iya,” jawab Aldo. “Setidaknya tidak sekacau kemarin.”
Lila tersenyum, lalu menatapnya penuh arti. “Kalau begitu, mulai sekarang kau bisa lebih sering di sini.”
Aldo menoleh. “Aku masih punya istri.”
Kalimat itu membuat senyum Lila menegang, meski hanya sesaat.
“Aku tahu,” katanya akhirnya. “Aku tidak minta apa-apa sekarang.”
Namun dari cara matanya menatap, Aldo tahu, itu bukan kebenaran sepenuhnya.
“Aku hanya ingin kau ingat,” lanjut Lila lembut tapi tegas, “di mana hatimu sebenarnya berada.”
Aldo terdiam.
Ia memikirkan Ririn, rumah yang kini terasa asing, pernikahan yang dingin, keputusan yang sudah terlanjur diambil. Ia juga memikirkan Lila, perempuan yang sejak awal selalu ia pilih. Perempuan yang dia sukai, sejak sering melihat Lila bersama Ririn.
“Aku tidak akan memaksamu,” ucap Lila sambil meraih tasnya. “Tapi jangan buat aku menunggu terlalu lama.”
Pintu tertutup di belakangnya.
Aldo kembali sendirian.
Ia menatap ponselnya, memastikan saldo itu masih ada. Angka-angka itu nyata. Masalah keuangannya untuk sementara teratasi.
Namun entah kenapa, mimpi tadi malam kembali terlintas.
Tatapan Ririn yang diam.
Tidak menuntut.
Tidak memohon.
Dan justru karena itu, Aldo merasa… gelisah.
Ia menggeleng pelan.
“Hanya mimpi,” ulangnya.
Tapi untuk pertama kalinya, Aldo bertanya dalam hati:
Bagaimana jika mimpi itu bukan sekadar bunga tidur?
*******
Dengan langkah tertatih, Ririn menuju kamar mandi.
Setiap gerakan terasa berat, seolah tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri. Ia menutup pintu, menguncinya, lalu bersandar di sana beberapa detik, napasnya terengah, dadanya naik turun menahan isak yang tidak kunjung keluar.
Air mengalir deras.
Ririn berdiri di bawah pancuran, membiarkan air dingin menghantam kulitnya. Tangannya bergerak gemetar, menggosok tubuhnya berulang kali, seakan ingin menghapus sesuatu yang tak terlihat namun terasa melekat di setiap inci dirinya.
Ia menggosok lagi.
Dan lagi.
Sampai kulitnya memerah, sampai rasa perih mengalahkan rasa hampa di dadanya. Namun apa pun yang ia lakukan, perasaan itu tak juga hilang.
Sentuhan yang ingin ia buang…
kenangan yang ingin ia hapus…
semuanya tetap tinggal.
Air mata bercampur dengan air, jatuh tanpa suara.
Ririn memeluk dirinya sendiri, menggigil. Untuk pertama kalinya, ia merasa begitu asing di dalam tubuhnya sendiri.
Dengan tangan masih gemetar, Ririn keluar dari kamar mandi. Ia tidak mengganti pakaian. Gaun hitam itu masih melekat di tubuhnya, gaun yang sejak awal membuatnya ragu, kini terasa seperti pengingat kejam atas kebodohannya sendiri.
Ia mengambil tasnya, menunduk, lalu keluar dari kamar itu.
Setiap langkah menuju lift terasa panjang dan menyiksa.
Di lobi hotel, lampu-lampu terang membuatnya ingin menghilang. Ririn berdiri di sudut, menatap layar ponsel yang menunjukkan mobil online sedang dalam perjalanan.
Menunggu.
Namun penantian itu terasa seperti hukuman.
Ia merasa setiap pasang mata tertuju padanya. Setiap bisikan terasa seperti tuduhan. Meski tidak ada satu pun yang benar-benar memandangnya lama, rasa malu itu sudah terlanjur menggerogoti dadanya.
Ia menarik bahu, menunduk lebih dalam.
Pulang, batinnya lirih.
Aku hanya ingin pulang.
Dan sejak saat itu,
tidak ada lagi Ririn yang sama seperti sebelumnya., batinnya lirih.
Aku hanya ingin pulang.
Ketika notifikasi mobil tiba akhirnya berbunyi, Ririn hampir menangis karena lega. Ia melangkah cepat, tanpa menoleh lagi ke belakang, tanpa tahu bahwa malam ini akan meninggalkan luka yang jauh lebih dalam dari yang sanggup ia bayangkan.
Dan sejak saat itu,
tidak ada lagi Ririn yang sama seperti sebelumnya.
Bersambung...,....