5. Dikhianati Teman dan Suami

1170 Words
Rumah itu gelap saat Ririn tiba. Tidak ada lampu ruang tamu yang menyala. Tidak ada suara langkah kaki. Tak ada aroma kehadiran seseorang yang menunggunya pulang. Ririn berdiri beberapa detik di ambang pintu, menatap ruang yang selama ini ia sebut rumah, namun tidak pernah benar-benar terasa seperti itu. “Aldo…” panggilnya lirih. Tidak ada jawaban. Hening. Ririn menutup pintu perlahan, lalu bersandar di sana. Dadanya terasa kosong, jauh lebih sunyi daripada kamar hotel tadi. Ia seharusnya sudah tahu, Aldo tidak akan ada. Pria itu bahkan tidak repot berpura-pura peduli. Ia melangkah masuk ke kamar mereka. Ranjang itu rapi. Terlalu rapi. Seperti tidak pernah ada kehidupan di sana. Ririn duduk di tepinya, menatap lemari, foto pernikahan di dinding, cincin yang masih melingkar di jarinya. Tiba-tiba semuanya terasa begitu ironis. Ia teringat semua pengorbanannya. Semua diamnya. Semua harapannya bahwa suatu hari Aldo akan berubah, akan melihatnya, akan mencintainya, meski sedikit saja. Kini ia tahu jawabannya. Tidak akan pernah. Ririn berdiri, berjalan ke depan cermin. Wajah yang menatap balik tampak pucat, matanya sembab, namun di balik itu ada sesuatu yang baru, kesadaran pahit yang akhirnya tak bisa lagi ia sangkal. Jika ia tetap bertahan… jika ia masih tinggal di rumah ini… maka yang tersisa darinya hanyalah kehinaan yang ia izinkan sendiri. “Aku sudah cukup,” bisiknya pelan. Tangannya membuka lemari, mengambil tas kecil, lalu mulai memasukkan barang-barang seperlunya. Tidak banyak. Ia tidak ingin membawa terlalu banyak kenangan dari tempat ini. Cincin di jarinya ia lepas. Ia meletakkannya di atas meja dengan hati-hati, seolah sedang menutup satu bab hidupnya. “Aku akan pergi,” ucapnya lirih, entah pada siapa. “Dan aku akan bercerai.” Bukan dengan amarah. Bukan dengan teriakan. Melainkan dengan keputusan yang sunyi, namun bulat. Ririn menghela napas panjang, lalu melangkah keluar dari kamar itu. Rumah yang pernah ia perjuangkan dengan seluruh hatinya kini ia tinggalkan tanpa menoleh lagi. Malam itu, Ririn kehilangan segalanya. Namun untuk pertama kalinya… ia memilih menyelamatkan harga dirinya sendiri. ****** Di dalam mobil, Ririn memeluk tas kecilnya erat-erat. Ia belum siap pulang ke rumah orang tuanya. Belum sekarang. Ia tahu betul, jika orang tuanya tahu apa yang terjadi, begitu juga orang tua Aldo, mereka pasti akan berusaha mencegah perceraian itu. Akan ada nasihat, akan ada tekanan, akan ada kalimat “bertahanlah demi pernikahan”, sementara yang ia butuhkan saat ini hanyalah ruang untuk bernapas. Karena itu, satu nama terlintas di kepalanya. Lila. Teman yang selama ini ia anggap tempat paling aman. Perempuan yang sering menenangkannya, yang selalu berkata bahwa Aldo hanya dingin, bukan tidak peduli. Yang berkali-kali meyakinkannya bahwa suatu hari Aldo akan mencintainya, asal Ririn cukup sabar. Mobil berhenti tidak jauh dari rumah itu. Ririn membayar ongkos, lalu turun perlahan. Langkahnya terhenti di tempat. Di depan rumah itu, sebuah mobil terparkir. Mobil Aldo. Jantung Ririn seakan berhenti berdetak. Ia berdiri mematung, bersembunyi di balik pohon, saat pintu rumah itu terbuka. Aldo keluar lebih dulu, disusul Lila. Mereka berdiri begitu dekat, terlalu dekat untuk sekadar teman. Dan sebelum Ririn sempat menenangkan diri, ia melihatnya. Aldo menunduk… lalu mengecup dahi Lila dengan lembut. Gerakan sederhana itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke d**a Ririn. Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan suara yang nyaris lolos. Matanya panas, tapi air mata tak langsung jatuh. Yang ada hanyalah rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tidak pernah sekalipun Aldo memperlakukannya seperti itu setiap dia mengantar sampai depan. Aldo menginap di sini, batinnya hampa. Saat aku dijual… dia ada di sini. Bersamanya. Mobil Aldo melaju pergi. Lila berdiri sebentar di teras, menatap kepergian mobil itu dengan senyum yang tidak pernah Ririn lihat sebelumnya. Senyum yang terlalu puas. Terlalu tenang. Saat itulah Ririn mengerti. Semua ucapan Lila selama ini… adalah kebohongan. Perempuan itu selalu berkata tidak menyukai Aldo. Selalu berpura-pura berada di pihaknya. Selalu menenangkannya dengan kalimat yang kini terasa kejam: Aldo hanya butuh waktu. Dia akan mencintaimu suatu hari nanti. Ririn tertawa kecil tanpa suara. Tawa yang pahit, nyaris seperti isakan yang patah. Teman yang ia percaya… suami yang ia cintai… ternyata berkhianat bersama-sama, tepat di belakangnya. Kaki Ririn terasa lemas. Ia mundur perlahan, menjauh dari rumah itu, dari semua kebohongan yang hampir membuatnya bertahan lebih lama dalam pernikahan yang hancur. Ia mengusap wajahnya, menarik napas panjang. Tidak ada lagi tempat untuk kembali. Tidak ada lagi alasan untuk menunda. Malam itu, di bawah langit yang terasa terlalu luas dan terlalu sunyi, Ririn akhirnya yakin.... Keputusannya untuk pergi… adalah satu-satunya hal benar yang ia lakukan untuk dirinya sendiri. Dan mulai detik itu, tidak ada lagi air mata untuk Aldo. Dia akan menghapus cintanya untuk Aldo. ******* Mobil Aldo menghilang di ujung jalan. Lila masih berdiri di teras, menatap pagi dengan wajah yang tenang, terlalu tenang untuk hati yang selama ini dipenuhi iri dan dendam. Ia menutup pintu perlahan, lalu bersandar di sana, menarik napas panjang. Akhirnya… “Apa yang dulu kau miliki, sekarang menjadi milikku, Rin,” gumamnya pelan. “Jangan salahkan aku kalau kejam.” Tangannya mengepal. Sejak dulu, pria yang ia sukai hanyalah satu, Gerald. Namun sekeras apa pun ia berusaha, seberapa dekat pun ia mendekat, pandangan Gerald selalu melewatinya. Pria itu hanya punya satu pusat perhatian. Ririn. Dan di sanalah rasa sakit itu tumbuh, mengakar, berubah menjadi iri yang tak pernah benar-benar padam. Ia ingat bagaimana ia tersenyum di depan Ririn, berpura-pura menjadi sahabat yang peduli. Menyusun kata-kata dengan hati-hati, menanamkan keraguan, membangun jarak. “Gerald itu gonta-ganti perempuan, Rin.” “Hati-hati, jangan sampai kamu terluka.” “Dia tidak serius, cuma main-main.” Semua itu kebohongan. Semua itu rencana. Bukan karena ia ingin melindungi Ririn, melainkan karena ia tidak sanggup melihat Ririn yang dipilih. Lila menatap pantulan dirinya di cermin, matanya dingin. “Aku hanya ingin kau merasakan apa yang kurasakan,” bisiknya lirih. “Menyukai seseorang… tapi harus melihat dia memilih perempuan lain.” Seperti dirinya dulu. Dan kini, seperti Ririn. Bedanya, kali ini Lila berada di sisi yang menang. Aldo, suami Ririn-lebih memilih dirinya. Pria yang seharusnya menjadi sandaran Ririn, justru berpaling. Dan fakta itu memberi Lila kepuasan pahit yang tidak ingin ia akui. “Sekarang kita impas,” gumamnya. Ia tersenyum tipis, bukan karena bahagia, melainkan karena merasa adil, dengan caranya sendiri yang keliru. Namun jauh di dalam hatinya, ada satu kebenaran yang tak bisa ia sangkal: Ia mungkin berhasil merebut Aldo. Ia mungkin berhasil menghancurkan Ririn. Tapi pria yang benar-benar ia inginkan… masih belum pernah menoleh padanya. Dan rasa lapar itu, belum juga terpuaskan. Sial, geram Lila dalam hati. Pria tidak berguna itu malah menjual Ririn pada Gerald. Rahangnya mengeras. Keputusan Aldo yang nekat itu justru membuat segalanya berbalik arah, mendorong Ririn masuk ke dunia Gerald, ke dalam jangkauan pria yang sejak dulu terobsesi padanya. Sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi… malah menjadi kenyataan. Tanpa kusadari, pikir Lila pahit, Aldo justru membantunya lebih dekat pada Gerald. Dan fakta itu membuat dadanya terasa panas, dipenuhi amarah yang bercampur iri. Ia ingin Ririn terluka, ingin Ririn merasakan kehilangan, bukan menjadi pusat perhatian pria yang sejak dulu ia dambakan. “Kau seharusnya jatuh,” gumamnya pelan. “Bukan dipilih.” Bersambung..........
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD