6. Obsesi Gerald

1130 Words
Ruang kerja Gerald sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran kantor semewah ini. Dinding kaca memantulkan cahaya kota yang berkilau, meja kerjanya rapi tanpa satu pun berkas berserakan. Semua terlihat sempurna. Terkendali. Seperti hidupnya yang selalu ia banggakan. Namun untuk pertama kalinya, Gerald merasa ada sesuatu yang retak. Ia menyandarkan punggung di kursi, jemarinya saling bertaut di depan d**a. Matanya menatap kosong ke arah jendela, tapi yang terpantul bukan gedung-gedung tinggi, melainkan wajah Ririn. Air mata itu. Tatapan kosong itu. Tubuh yang kaku seolah jiwanya telah pergi lebih dulu. Gerald menghela napas panjang, lalu mendengus pelan. “Seharusnya aku puas,” gumamnya lirih. Bukankah ini yang ia inginkan sejak dulu? Bukankah ini sumpah yang pernah ia ucapkan dengan penuh amarah dan harga diri yang terluka? Namun anehnya, tidak ada rasa menang. Yang ada justru bayangan Ririn yang terus muncul, seperti bayang-bayang yang menempel di sudut pikirannya. Setiap kali ia memejamkan mata, yang teringat bukan rasa puas, melainkan air mata yang tidak sempat ia usap. Gerald berdiri tiba-tiba, berjalan mondar-mandir di ruang kerja itu. Langkahnya tegas, tapi pikirannya kacau. “Aku sudah membayarnya,” ucapnya pada dirinya sendiri, seolah sedang membela diri. “Aku tidak mencurinya. Dia diberikan.” "Salahkan saja suaminya yang tidak berguna itu!" Namun kata-kata itu terasa hambar. Untuk pertama kalinya, Gerald merasakan sesuatu yang asing, bukan rasa bersalah, tapi ketidaktenangan. Seolah setelah bertahun-tahun mengejar satu hal, ketika akhirnya ia menggenggamnya… yang tersisa hanyalah kehampaan. Ia teringat tatapan Ririn di masa lalu. Tatapan yang menolak, tapi jujur. Bukan seperti wanita-wanita lain yang menatapnya dengan penuh perhitungan. “Kenapa harus seperti itu, Ririn…” bisiknya pelan. Gerald menekan pelipisnya. Ia tidak menyukai perasaan ini, tidak menyukai kenyataan bahwa satu perempuan mampu mengusik ketenangannya sedalam ini. Namun satu hal yang pasti, ia tidak menyesal telah memilikinya. Yang di luar dugaan justru fakta itu sendiri, bahwa dialah pria pertama yang benar-benar menyentuh Ririn. Kenyataan itu seharusnya memberinya kepuasan, kemenangan yang selama ini ia dambakan. Tapi entah kenapa, yang tertinggal justru rasa getir. “Pria tidak berguna,” gerutunya pelan, setiap kali wajah Aldo terlintas di benaknya. Pria yang berhasil menikahi Ririn, namun gagal menjaganya. Pria yang mendapatkan cinta Ririn, lalu menyia-nyiakannya begitu saja. Jika pun hatinya belum merasa puas, maka itu hanya berarti satu hal, Ini belum selesai. Gerald melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja. Layar hitam itu seolah menantangnya, diam namun penuh janji. “Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, semua belum selesai,” ucapnya dingin, seakan Ririn bisa mendengar setiap katanya. “Sekali masuk ke duniaku, tidak ada jalan keluar.” Di luar sana, dunia tetap berjalan seperti biasa. Orang-orang tertawa, bekerja, dan hidup tanpa tahu apa yang baru saja terjadi. Namun di dalam ruang kerja itu- obsesi yang Gerald kira telah berakhir… justru baru saja dimulai. ******** Gerald masih berdiri di dekat jendela ketika ketukan itu terdengar. Tok. Tok. Suara pelan, teratur, profesional, namun cukup untuk menariknya kembali ke kenyataan. Gerald mengernyit, sejenak terganggu karena pikirannya masih dipenuhi satu nama. “Masuk,” ucapnya singkat. Pintu terbuka. Langkah kaki ringan terdengar, diikuti aroma parfum yang familiar. Gerald berbalik setengah malas, hingga matanya berhenti. Lila. Wanita itu melangkah masuk dengan setelan kerja rapi, rambut disanggul sederhana, wajahnya menampilkan senyum profesional yang nyaris sempurna. Tidak ada yang mencurigakan dari penampilannya, kecuali satu hal: ia selalu tenang. “Pak Gerald, ada dokumen yang perlu tanda tangan Anda,” ujar Lila lembut, berjalan mendekat ke meja kerja. Gerald menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Bukan karena tertarik, melainkan karena pikirannya masih terjebak pada Ririn. Namun kehadiran Lila justru menimbulkan rasa tidak nyaman yang aneh. “Letakkan saja,” katanya akhirnya. Lila menuruti, tapi sebelum berbalik pergi, ia melirik Gerald sekilas. Tatapan itu cepat, nyaris tak terlihat, namun cukup tajam bagi Gerald untuk menangkap sesuatu di sana. Bukan sekedar hormat. Ada rasa ingin tahu. “Pak Gerald terlihat lelah,” ucap Lila, pura-pura prihatin. “Apakah Anda ingin saya menunda jadwal sore ini?” Gerald menghela napas pelan. “Tidak perlu.” Lila mengangguk, tapi kali ini senyumnya sedikit berubah lebih tipis, lebih dalam. Seolah ia sedang menyimpan sesuatu. “Baik,” katanya. “Kalau begitu… saya di luar.” Pintu kembali tertutup. Gerald kembali menatap jendela, tapi kini pikirannya terganggu. Ia baru menyadari satu hal yang luput dari perhatiannya selama ini, sejak kapan Lila begitu sering berada di sekitarnya? Dan yang lebih mengganggu… kenapa tatapan wanita itu barusan membuatnya merasa seolah sedang diamati? Di balik pintu, Lila berhenti sejenak. Senyum profesionalnya memudar, digantikan kilatan emosi yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. “Jadi akhirnya kau mendapatkannya juga, Gerald…” gumamnya lirih. Jemarinya mengepal. Permainan ini, ternyata, tidak hanya melibatkan satu obsesi. Dan Gerald yang mengira dirinya pengendali segalanya, perlahan mulai berdiri di tengah jaring yang lebih rumit dari yang ia bayangkan. ******* Sejak dulu, Lila selalu tahu satu hal: ia tidak pernah benar-benar berada di garis depan. Gerald terlalu tinggi untuk dijangkau, terlalu terang untuk dilihat olehnya. Namun itu tidak membuat Lila berhenti. Ia mengikuti setiap kabarnya dari jauh, perusahaan yang dipimpin Gerald, relasi bisnisnya, hingga kabar-kabar kecil yang tersebar di lingkaran sosial mereka. Diam-diam. Sabar. Menunggu. Sampai suatu hari, perusahaan Gerald membuka lowongan sekretaris. Tanpa ragu, Lila melamar. Bukan karena kemampuan semata, melainkan karena kesempatan. Ia tahu, berada di dekat Gerald jauh lebih berarti daripada sekadar mengaguminya dari kejauhan. Dan kali ini, ia tidak perlu takut bersaing. Ririn telah memilih jalan yang berbeda. Menjadi kekasih yang setia. Menunggu menjadi istri Aldo. Perempuan yang menyerahkan dunia luar pada pria yang dicintainya. Lila tersenyum tipis setiap kali memikirkan itu. Kalau saja Ririn melamar, pikirnya dingin, Gerald pasti akan memilihnya. Karena itulah Lila memastikan satu hal sejak awal, Ririn tidak boleh berada di jalur yang sama dengannya. Ia menyemangati Ririn agar bertahan dengan Aldo. Menguatkannya saat rumah tangganya goyah. Bahkan Ririn membantu perusahaan Aldo tanpa bayaran, menutup mata pada semua kekurangannya, semua demi satu tujuan sederhana: pernikahan itu harus terjadi. Dan berhasil. Saat Aldo akhirnya menikahi Ririn, Lila berdiri di sampingnya, tersenyum, berpura-pura bahagia. “Dengan semangat yang selalu kamu berikan,” ujar Ririn kala itu dengan mata berbinar, “akhirnya aku jadi istri Mas Aldo, La. Terima kasih… kamu memang sahabat terbaikku.” Ucapan itu masih terngiang di telinga Lila hingga kini. Dan setiap kali ia mengingatnya, bibirnya selalu melengkung, bukan karena haru, melainkan karena geli. Bestiku, kau terlalu polos... ulang Lila dalam hati sambil tertawa dingin. Kalau saja kau tahu, Rin… Ia melirik pintu ruang kerja Gerald dari balik meja sekretarisnya. Pria yang selama ini ia dambakan, berada hanya beberapa langkah darinya. Lebih dekat dari sebelumnya. Lebih nyata. “Kau sudah memilih jalanmu,” gumam Lila pelan. “Dan aku… memilih jalanku sendiri.” Permainan ini tidak pernah tentang persahabatan. Ini tentang posisi. Tentang siapa yang bertahan… dan siapa yang harus tersingkir. Dan kali ini, Lila tidak berniat kalah lagi. Bersambung.......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD