7. Permainan yang Menelanku

1179 Words
Setelah pintu ruangannya tertutup kembali, Gerald tidak langsung kembali ke mejanya. Ia berdiri diam beberapa detik, menatap daun pintu itu seolah masih bisa melihat bayangan Lila di baliknya. Tidak ada perasaan tertinggal. Tidak juga rasa tertarik. Sejak dulu, Gerald memang tidak pernah benar-benar menyukai Lila. Entah mengapa, baginya Lila tidak berbeda dengan perempuan-perempuan lain yang berusaha mendekatinya, hanya saja Lila lebih pandai menyembunyikannya. Lebih rapi. Lebih profesional. Ambisinya tidak berisik, tapi terasa. Dan justru itu yang membuat Gerald menjaga jarak. Saat Lila melamar sebagai sekretaris di perusahaannya, sebenarnya banyak kandidat lain yang jauh lebih sesuai. Lebih cakap. Lebih berpengalaman. Bahkan jika berbicara soal latar akademis, Ririn selalu berada di atas Lila. Pikiran Gerald tanpa sadar kembali pada satu nama itu. Ririn. Ada banyak hal yang ia kagumi dari perempuan itu sejak dulu. Kelembutannya yang alami, sikap anggunnya yang tidak dibuat-buat, kecerdasannya yang tenang. Ririn tidak pandai basa-basi, tidak suka bersandiwara dan agak tertutup. Ia apa adanya, dan justru itulah yang membuatnya berbeda. Polos. Terlalu polos, mungkin. Gerald mengepalkan tangannya pelan. Sial, pikirnya. Rasa sukanya memang tidak pernah berbalas. Dan mungkin tidak akan pernah. Namun keputusan Gerald kala itu tetap mengejutkan banyak pihak, termasuk HRD. “Apa tidak sebaiknya kita pilih kandidat lain, Pak?” tanya bagian HRD dengan alis berkerut, jelas heran, karena masih ada kandidat lain yang lebih mumpuni. Biasanya bos tidak pernah ikut campur urusan rekrutmen, walaupun untuk posisi sekretaris, batinnya merasa aneh. Gerald hanya menjawab singkat, tanpa emosi. “Pilih Lila.” Tidak ada penjelasan. Bukan tanpa alasan sebenarnya. Gerald tahu betul, Lila adalah teman dekat Ririn semasa kuliah. Jika ada seseorang yang mengetahui kehidupan Ririn dari dekat, kebiasaan, kesukaannya, keputusannya, maka orang itu adalah Lila. Dan Gerald menginginkan itu. Informasi. Kontrol. Akses, meski tidak langsung. Ia berjalan kembali ke meja kerjanya, duduk, lalu menatap kursi kosong di seberang. Untuk sesaat, bayangan yang muncul bukan Lila, melainkan Ririn, duduk di sana dengan tatapan tenang yang selalu berhasil membuatnya kehilangan kata-kata. “Aku hanya ingin tahu,” gumam Gerald pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Ingin memastikan.” Namun jauh di dalam hatinya, Gerald tahu, keputusan itu sejak awal bukan sekadar soal rasa ingin tahu. Itu adalah langkah pertama dalam obsesi yang ia sendiri tidak pernah benar-benar ingin akui. ******** Lila menatap kosong ke arah jendela di ruangan itu, jemarinya gemetar menggenggam selembar kertas yang sudah kusut. Napasnya terasa berat, seolah dadanya dipenuhi penyesalan yang terlambat disadari. Awalnya, semua ini tidak pernah ia rencanakan sejauh itu. Ia hanya ingin terlihat baik di mata Aldo. Membawa Aldo bertemu Gerald, membuka jalan bantuan, menunjukkan bahwa dirinyalah yang lebih berguna, lebih dewasa, lebih mampu dibanding Ririn. Ia ingin selalu menang dari Ririn. Ia ingin Aldo melihatnya dengan cara yang berbeda. Mengingatnya. Menghargainya. Mungkin… memilihnya. Agar Ririn mengalami hal yang sama dengannya. Diacuhkan oleh pria yang dia cintai. Namun satu hal luput dari perhitungannya. Gerald. Ia tidak pernah menyangka pria itu akan begitu terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada istri Aldo. Dengan tidak tahu malunya Gerald menyatakan keinginannya langsung, tanpa basa-basi. Istri Aldo. Uang akan diberikan, tanpa harus dikembalikan. Dan yang lebih gila lagi… Aldo tidak marah. Tidak melindungi. Tidak ragu. Ia justru menjual Ririn dengan begitu mudah, seolah yang dilepaskan bukan istrinya sendiri, melainkan barang yang bisa ditukar dengan angka. Bahkan dengan wajah tenang, Aldo berani menjamin kalau Gerald tidak akan rugi, walaupun Ririn berstatus istrinya, Ririn masih gadis suci dan belum tersentuh. Dengan kelebihan itu, Aldo meminta imbalan lebih. Saat itu, Lila benar-benar ketakutan. Ia tahu apa arti “kesucian” di mata pria seperti Gerald. Ia tahu nilai itu bukan sekadar soal tubuh, melainkan kepemilikan. Dan semakin ia sadar akan itu, semakin dingin punggungnya. Ia sempat mencoba menghentikan semuanya. Tapi Aldo hanya tertawa. “Kenapa kamu khawatir?” katanya santai. “Kalau Ririn bercerai denganku, itu malah bagus. Aku bisa menikah denganmu.” Kalimat itu masih terasa seperti pisau di d**a Lila. Bukan karena harapan, melainkan karena muak. . Kini, setiap kali Lila membayangkan malam itu, dadanya terasa sesak. Bukan seperti ini yang ia inginkan. Ia ingin Ririn jatuh. Kehilangan. Merasakan sakit yang sama dengannya. Tapi bukan dengan cara ini. Yang ia inginkan… seharusnya dialah yang berada di sisi Gerald. Dialah yang dipilih. Dialah yang diperjuangkan. Namun semuanya sudah terlanjur. Ia menyadari, ini benar-benar senjata makan tuan. Dan sekarang, ketakutan terbesarnya justru satu hal lain, Gerald tidak akan berhenti. Obsesi pria itu pada Ririn justru semakin dalam setelah malam itu. Terlalu dalam untuk sekadar dilepaskan. Lila meremas kertas di tangannya hingga robek. “Kau dan Aldo memang cocok,” gumamnya geram. “Sama-sama bodoh.” Matanya memanas, bukan karena air mata, melainkan amarah yang tertahan. “Gerald seharusnya milikku,” bisik Lila getir. “Seharusnya aku yang berada di tempat tidur itu.” Padahal begitu banyak kesempatan yang pernah ia miliki. Perjalanan dinas ke luar kota, waktu-waktu panjang yang mereka habiskan berdua karena pekerjaan, namun tidak sekali pun Gerald menunjukkan ketertarikan padanya. Seolah semua usahanya tidak pernah benar-benar terlihat. “Apa kurangnya aku dibandingkan Ririn?” gumamnya lirih. Namun tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah kenyataan pahit: dalam permainan yang ia mulai dengan tangannya sendiri, Lila justru menjadi penonton yang paling terluka. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari, ia mungkin telah menciptakan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sekadar rasa cemburu. Sebuah obsesi yang kini berada di luar kendalinya, ia mungkin telah menciptakan monster yang tidak bisa ia kendalikan lagi. ******** Ririn melangkah tanpa tujuan di trotoar yang mulai dipenuhi orang-orang pulang kerja. Langkahnya pelan, nyaris terseret, seolah setiap meter yang ia lalui membutuhkan tenaga yang tersisa sedikit sekali. Ia tidak tahu harus ke mana. Rumah yang selama ini ia anggap tempat pulang ternyata bukan lagi miliknya. Sahabat yang ia percaya menyimpan wajah lain yang tak pernah ia bayangkan. Orang tuanya, belum siap ia hadapi. Terlalu banyak pertanyaan yang belum sanggup ia jawab. Ririn berhenti di tepi jalan, menunduk, memeluk dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa sendirian. Dalam benaknya, kenangan-kenangan itu bermunculan tanpa diminta. Tahun-tahun yang ia habiskan di samping Aldo. Pilihan-pilihan yang ia buat tanpa ragu, menyingkirkan ambisi, menunda mimpi, meyakinkan dirinya bahwa cinta cukup untuk menutup semuanya. Ia selalu berpikir, tidak apa-apa. Tidak apa-apa jika ia tidak mengejar karier. Tidak apa-apa jika ia selalu mengalah. Tidak apa-apa jika dunia hanya berputar di sekitar satu orang. Namun kini, semua itu terasa seperti kesalahan besar. “Apa gunanya semua yang kupelajari dulu…” bisiknya lirih. Pendidikan yang ia tempuh dengan susah payah. Nilai-nilai yang dulu membuatnya dibanggakan. Semua seakan menguap, tIdak memberinya pegangan sedikit pun saat ia paling membutuhkannya. Ririn menggigit bibirnya, menahan isak. Ia merasa bodoh, bukan karena kurang pintar, melainkan karena terlalu percaya. Terlalu yakin bahwa ketulusan akan selalu dibalas dengan hal yang sama. Angin sore menerpa wajahnya, dingin dan asing. Ririn mengangkat kepala, menatap deretan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Ia tidak tahu ke mana harus pergi malam ini. Namun satu hal mulai terbentuk perlahan di dadanya, Ia tidak bisa terus seperti ini. Jika ia terus berjalan tanpa arah, ia akan benar-benar hilang. Dan kali ini, Ririn tahu, tidak akan ada siapa pun yang datang menyelamatkannya. Kecuali… dirinya sendiri. Bersambung.......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD