Udara di ruangan Casias terasa berat oleh sisa-sisa presentasi, angka-angka dan janji-janji yang ditawarkan pada investor. Di balik kaca jendela, langit Kota A mulai berwarna jingga, menandai akhir pekan yang dinanti. Namun, kelelahan Casias kali ini terasa ringan, hampir tak berarti. Pikirannya masih melayang pada memori panas semalam. Sentuhan Elara. Desah*nnya. Gairah yang begitu hidup dan nyata, mampu mengubah perselisihan menjadi sesuatu yang hangat dan membara. Betapa mengagumkan, pikirnya sambil mengendurkan dasinya. Mengapa baru sekarang? Di ujung masa pernikahan kontrak ini? Penyesalan yang pahit menyelinap di antara kepuasan itu. Seandainya malam seperti tadi terjadi lebih awal, mungkin segalanya akan berbeda. Mungkin ia tidak akan begitu yakin untuk mengakhiri ini semua demi Ti

