Elara mengerahkan tenaga untuk membuka perlahan matanya yang terasa berat, berkunang-kunang. Langit-langit berwarna putih s**u dengan lampu kristal yang redup bukan langit-langit kamarnya. Perlahan, ia menoleh. Detak jantungnya mulai berdetak cepat, memompa adrenalin yang mengusik sisa-sisa peningnya. "Kau sudah sadar, Elara?" Suara barusan terdengar dalam, berwibawa dan ... familiar. Elara memalingkan wajah ke sumber suara. Di sebelah ranjang, duduk di sebuah sofa tunggal Robert Winston. Pria dengan rambut perak yang ditata rapi, rahang tegas dan mata berwarna kelabu yang sering ia lihat menghiasi baliho-balho kampanye di seluruh kota. Calon walikota Kota A. Pria yang pernah berdebat dengannya belum lama ini. Elara tersentak, nyaris merobek selimut halus yang menutupi tubuhnya. Ras

