Elara mondar-mandir gelisah di ruang tamu apartemen Felisha yang minimalis, sepatu hak tingginya berdetak tak beraturan di atas lantai kayu. Detak itu mencerminkan irama jantungnya yang masih tak beraturan. Ia mengusap-usap bibirnya dengan ujung jari, sensasi hangat dan lembut masih membekas. Ci*man itu. Singkat, spontan, terjadi di dalam mobil yang gelap, tapi dampaknya seperti gelombang kejut yang merambat ke setiap sel tubuhnya. Nafas Robert yang hangat, sentuhan tangan kasarnya yang hampir saja merangkul pipinya serta de*ahan ringan yang tertahan sebelum mereka berdua tersentak kembali ke realita. Elara menarik napas dalam-dalam, memaksakan logika untuk mendinginkan kepalanya. Ini hanya kesalahan, batinnya menggerutu. Terbawa suasana, adrenalin dan drama pertunangan palsu. Setelah ciu

