25

1517 Words

Amindita berdiri mematung di depan cermin besar kamar mandinya yang berlapis marmer dingin. Pantulan dirinya di sana tampak begitu asing—seorang wanita dengan rambut kusut, bibir yang sedikit membengkak, dan jejak-jejak kemerahan yang tersebar di sepanjang leher hingga ke dadanya yang kini hanya tertutup jubah mandi satin. Ia mengulurkan jari lentiknya, meraba pelan bercak merah keunguan di perpotongan lehernya. Rasa perih yang halus menjalar, mengingatkan pada ciuman posesif Praditya yang seolah ingin menelan seluruh keberadaannya tadi. "Kek macan tutul," gumam Amindita dengan senyum kecut yang dipaksakan. Matanya sedikit berkaca-kaca, bukan karena sakit fisik, tapi karena kebingungan emosional yang menghantamnya. Setelah perdebatan yang terjadi tadi, suasana langsung berubah menjadi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD