Cahaya terang dari kaca besar Presidential Suite seolah menambah panas di kamar itu, melingkupi ranjang luas itu. Praditya menatap Amindita dengan intensitas yang nyaris menelanjangi wanita yang ada di dalam kukungannya—tatapan seorang pria yang sedang bertarung melawan monster di kepalanya sendiri. "Jika aku berhenti di tengah jalan, tolong sadarkan aku, Dita. Jangan biarkan aku pergi," bisik Praditya, suaranya parau, sarat akan permohonan yang tersembunyi di balik ketegasannya. Amindita hanya bisa mengangguk lemah. Ia tahu persis apa yang ditakutkan suaminya. Ia tahu bagaimana bayangan masa lalu seringkali menarik Praditya mundur tepat saat penyatuan itu hampir terjadi. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Amindita mencoba menutupi dadanya yang membusung dan pusat tubuhnya dari tatap

