Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat ketika Range Rover hitam milik Praditya akhirnya melintasi pagar besi kokoh mansion utama Ararya. Suasana rumah megah itu sudah sangat sepi, hanya menyisakan beberapa lampu pilar yang berpijar temaram di halaman. Begitu pintu jati besar dibuka, Bi Sri, kepala pelayan senior yang sudah mengabdi belasan tahun di keluarga Ararya, langsung menyambut kedatangan sang tuan muda dengan membungkuk hormat. "Selamat malam, Tuan Praditya," sapa Bi Sri dengan suara rendah, takut memecah keheningan malam. "Malam, Bi. Dita sudah tidur?" tanya Praditya sembari menyerahkan jas hitamnya ke tangan Bi Sri. Nada suaranya terdengar datar, namun ada gurat kelelahan dan ketegangan yang tertahan di wajah tegasnya. "Sampun, Tuan. Ibu Amindita sudah istirahat di

