82

1533 Words

Fajar menyingsing di ufuk timur Kota Batu, dengan semburat warna jingga di sela-sela kabut yang masih enggan beranjak dari lereng gunung Panderman. Di depan teras rumah yang masih basah oleh embun, sebuah mobil SUV hitam yang mengkilap sudah terparkir dengan mesin yang menderu halus, siap membelah jalanan menuju Surabaya. Pak Broto berdiri di depan pintu jati tuanya, mengenakan sarung yang dikalungkan di leher dan jaket kain yang sudah usang. Ia menatap putri tunggalnya dan sang menantu dengan tatapan yang penuh dengan keharuan sekaligus kelegaan. "Ayah, Dita pamit dulu ya. Maaf ya Yah, baru beberapa minggu di sini sudah harus ditinggal lagi," ujar Amindita lembut sembari meraih tangan ayahnya, mencium punggung tangan pria tua itu dengan khidmat. Pak Broto mengusap puncak kepala Amindit

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD