81

1535 Words

Udara malam di lereng Panderman semakin menusuk tulang, membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari dapur-dapur warga. Praditya melangkah berdampingan dengan Pak Broto, menyusuri jalanan kampung yang hanya diterangi lampu teras rumah warga yang temaram. Praditya tampak sangat kontras, tak sepeeti biasanya. Ia mengenakan baju koko putih bersih miliknya yang dipadukan dengan sarung tenun pemberian Pak Broto—sebuah penampilan yang membuatnya terlihat jauh lebih seperti orang biasa, meski aura kepemimpinannya tetap tak bisa disembunyikan. "Ibadah di sini rasanya beda ya, Yah. Tenang sekali," gumam Praditya sembari merapatkan jaket yang ia pakai di luar baju kokonya. Pak Broto menepuk bahu menantunya pelan. "Iya, Prad. Di sini suaranya cuma suara alam. Gusti Allah itu terasa dekat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD