Praditya menghela napas kasar, bayangan wajah Amindiya mampu membuat Praditya kepikiran dan tak tenang. Ia segera masuk ke dalam walk-in closet, menanggalkan kemeja kerjanya yang ia kenakan tadi, dan menggantinya dengan kaus polo hitam yang pas di tubuh atletisnya serta celana kain berwarna cokelat tanah. Tampilan yang lebih santai, namun tetap memancarkan aura dominan yang tak terbantahkan. Ia melirik jam tangannya. Jarum menunjukkan pukul sembilan malam. Ia harus segera pergi sebelum hatinya semakin tidak tenang memikirkan Amindita yang saat ini memilih berada di rumah sayang ayah mertua. Tanpa pamit, ia melangkah lebar menuju lift pribadi mansion yang akan membawanya ke lantai dasar dan ia akan langsung ke garasi bawah tanah. Ting! Pintu lift terbuka di lantai utama. Namun, baru saja

