39

1425 Words

Asap tipis mengepul dari wajan usang di dapur sempit itu, membawa aroma tumis kangkung dan tempe goreng yang sangat akrab di indra penciuman Amindita. Ia masih mengenakan kemeja kerjanya yang kini lengannya digulung hingga siku, berdiri di depan kompor gas satu tungku yang apinya terkadang tersedat. Pak Broto bersandar di kusen pintu dapur yang catnya sudah mengelupas, memerhatikan punggung putrinya dengan tatapan sendu. Pemandangan ini sungguh kontras. Putrinya, yang biasanya dikelilingi kemewahan sebagai sekretaris pribadi CEO Ararya Group—dan istri dari pria itu—kini harus berkutat dengan hawa panas dan ruang gerak yang hanya seukuran langkah kaki. "Nduk..." panggil Pak Broto lembut, suaranya nyaris tenggelam oleh desis minyak panas. "Iya, Yah?" Amindita menoleh sebentar, memberikan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD