100B

1181 Words

Di sebuah sudut kafe bernuansa remang dan eksklusif di kawasan Jakarta Selatan, Raden Mas Danendra Daniswara duduk dengan segelas wiski yang sudah mencair di hadapannya. Kerah kemeja batiknya kini sudah dilonggarkan, menampilkan rajutan tato etnik di tulang selangkanya yang menegang. Tatapan matanya kosong, namun penuh dengan kilat amarah dan frustrasi yang tertahan setelah didepak secara tidak hormat dari gedung Ararya Group siang tadi. Suara denting porselen memecah lamunannya saat seorang wanita dengan gaun berpotongan elegan dan riasan tebal duduk di kursi hadapannya tanpa permisi. Widya. Wanita itu melipat kakinya anggun, menatap Danendra dengan senyuman misterius yang selalu menghiasi bibir merahnya. "Bagaimana pertemuan pertamamu dengan penguasa Ararya, Mas Danen?" tanya Widya den

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD