Pintu ruang kerja pribadi Praditya tertutup rapat, menyisakan keheningan yang terasa begitu pekat dan berat. Praditya duduk tegap di kursi kebesarannya, matanya menatap tajam ke lembaran berkas di atas meja, namun tak satu pun kalimat di sana yang benar-benar tercerna oleh otaknya. Jujur saja, di dalam d**a pria itu tengah bergejolak rasa marah, cemburu, dan ketakutan yang luar biasa. Persetan dengan ucapannya di depan Danendra tadi yang berlagak tahu segalanya. Kenyataannya, Praditya sama sekali tidak tahu-menahu tentang detail masa lalu Amindita sebelum bersamanya. Ucapan ambigu Danendra di ruang rapat tadi sukses menghantam titik terlemah dalam dirinya, membuatnya goyah dan didera rasa takut kehilangan yang teramat sangat. Amindita yang sejak tadi duduk diam di sofa panjang menatap pu

