Bab 1 - Tuntutan Hubungan Serius

1180 Words
6 Tahun kemudian “Bu bos, ada tamu.” Suara salah seorang karyawan, membuat bu bos yang tak lain adalah Ganesha Radengga Adhyrajasa menoleh sebentar. Putri kedua dari keluarga Rajasa yang memilih tidak menjadi apa-apa itu, meninggalkan karangan bunga yang dipesan salah seorang pelanggan setia. “Siapa?” tanyanya “Seperti biasa.” Nesha meninggalkan pijakan. Berlalu meninggalkan ruangan yang selama ini menjadi alasan kakaknya tidak menyebut ia pengangguran. Bukan menjadi dosen seperti kedua orangnya, pun menjadi dokter seperti kakaknya. Nesha dengan gigihnya mendirikan toko bunga bernama Calestial Florist yang pada awalnya tentu ditentang semua orang. Kata mereka, Nesha harus mengenyam pendidikan yang setara juga agar tidak menjadi bahan pembicaraan terlebih saat ada beberapa pertemuan penting keluarga. Namun, bukan Nesha namanya jika tetap teguh pada pendirian dan seiring berjalannya waktu, siapa sangka toko bunga kecil milik Nesha justru berkembang pesat dan sebentar lagi membuka cabang. “Bagaimana hubunganmu dengan pria itu?” Belum Nesha mengambil napas saat mendaratkan tubuhnya, Radika—kakak semata wayang Ganesha yang usianya hampir kepala 4 itu mengetuk meja. Interogasi dadakan memang kerap kali Nesha dengar saat Dika sedang kurang kerjaan. Padahal dokter ternama di salah satu rumah sakit besar itu akan lebih berguna jika tetap di rumah sakit saja. “Dia punya nama, Kak.” Nesha memperjelas, “namanya Teguh Pradipta.” “Kakak tidak ingat karena sampai sekarang pria itu belum menunjukkan batang hidungnya.” Nesha menghela napas pelan. Hubungannya dengan Teguh memang dikatakan cukup lama. Hampir genap 2 tahun nan dan sampai sekarang tidak ada yang berubah. Tetap jalan di tempat padahal untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius juga tak masalah. Usianya sudah cukup matang untuk menjadi ibu rumah tangga dan dia bisa melakukan semua pekerjaan rumah dengan benar. “Si Teguh itu serius atau tidak sebenarnya? Sudah mau 2 tahun kok belum ada niatan melamar?” Dika dengan kalimat pedasnya kembali mencecar. Padahal doi sendiri belum menjalin hubungan dengan siapa-siapa. Kali ini Nesha mengerucut bibir kesal. “Menjalin hubungan serius tidak bisa se terburu-buru itu ‘kan kak? Buktinya sampai sekarang Kakak masih melajang padahal usia Kakak sudah tua.” Perdebatan kakak adik dimulai. “kak Abiyasa saja sudah punya anak 2.” Dika melepas kacamata yang membingkai wajah tampannya. Kalimat Nesha barusan, tentu memukul telak cemoohannya. “Nanti kalau jodohnya sudah dapat Kakak juga akan menikah.” “Ya sama. Aku juga tinggal menunggu waktunya tiba.” Dua saudara yang usianya sedikit terpaut jauh itu sama-sama diam. Hening sebentar sampai akhirnya Dika bangkit dari duduknya karena beberapa menit lagi adalah jam praktiknya. “Pokoknya kalau Teguh tidak juga menemui Kakak, biar Kakak sendiri yang datang menemuinya. Apa-apaan menjalin hubungan tanpa kejelasan? Pria itu pikir kamu hanya pajangan?” Nesha memilih tak menjawab. Dia mengekor saja sampai Dika memasuki mobilnya. “Hati-hati di jalan, Kak,” ucap Nesha seraya melambaikan tangan. Mematung sebentar di sana sampai mobil Dika hilang dari pandangan sedang kata-kata Dika barusan telah menyita perhatian. Dia pernah di posisi itu sebelumnya. Menjalin hubungan dengan seseorang tapi hanya dianggap pajangan dan pada akhirnya ditinggalkan tanpa perasaan. Keenan Nugraha. Jangankan melihat, mendengar namanya saja sudah membuat darahnya mendidih sampai kepala. Menyesal luar biasa karena dia sudah jatuh cinta pada orang yang salah dan sempat membuat dia trauma menjalin hubungan. Namun, semua berubah saat Teguh Pradipta hadir dalam hidupnya. Teguh membuatnya kepercayaannya kembali dan sekarang dia yakin tidak akan disakiti lagi. “Bu bos, ada telepon.” Nesha tersentak dari lamunan. Cepat-cepat dia meninggalkan pijakan dan menuju meja kasir tempat dering telepon berasal. “Halo, ada yang bisa saya bantu?” Nesha menyunggingkan senyum. Seperti biasa menyambut para pelanggannya dengan ramah sekalipun tidak bertemu. “Benar ini Toko bunga Calestial Florist?” Nesha mengerjap. Spontan menjauhkan gagang telepon dari telinga begitu suara berat itu terdengar. Ada perasaan tak biasa. Namun, cepat-cepat dia mengenyahkan praduga yang tak seharusnya datang di waktu tidak tepat. “Iya benar.” “Saya ingin memesan bunga.” “Iya silakan. Kualitas dan pelayanan toko kami tentu tidak perlu diragukan.” Nesha dengan kepercayaan dirinya melanjutkan. “jadi, bunga seperti apa yang ingin Anda pesan? Apakah kami harus mengirim—“ “Tidak perlu.” Bibir Nesha mengatup. Rasa ingin mengumpat tapi rezekinya bisa kabur. Hanya, bisa-bisanya pria itu memotong pembicaraannya seperti itu? Dingin dan amat belagu. “Bunganya untuk seorang wanita.” ‘Iya tahu karena selama ini belum ada yang memesan bunga untuk banci.’ Nesha menjawab dalam hati. Keburu kesal karena nada bicara yang dia dengar tadi. “Saya akan mengambil bunganya besok pagi.” Tut! “Heh? Apa-apaan ini?” Nesha sampai memekik begitu sambungan teleponnya diputus secara sepihak. Pria itu belum mengatakan ingin memesan bunga apa dan ... apakah pria itu pikir dia peramal yang bisa menebak? Wah ... baru sekarang ada pelanggan yang menguji kesabarannya? “Kenapa Bu Bos?” Dita, karyawan Nesha yang limited edition mendekat. Dengan langkah gemulai mendekati Bu Bos muda yang masih dibuat terenyak oleh tingkah pelanggan barusan. “Tadi ada pelanggan pria mau memesan bunga. Katanya mau diambil besok pagi tapi belum mengatakan mau pesan bunga apa, teleponnya sudah ditutup.” “Pulsanya habis kali.” “Hah, menyebalkan sekali.” Nesha menepuk lengan Dita yang padat berisi. Membuat laki-laki setengah wanita itu terkikik geli. “Ya sudah jangan dipikirkan Bu Bos, besok Dita buatkan karangan bunga kenanga sama bunga siluman. Siapa tahu pelanggan fiktif ye ‘kan? Pura-pura pesan padahal cuma mau mengacaukan.” Logat bicara Dita yang kemayu-kemayu bengis seperti ibu tiri itu membuat Nesha tersenyum pelan. Memang beruntung sekali dia mendapatkan karyawan yang satu ini. Benar-benar membuat dunianya tidak sepi dan selalu Happy. “Ya sudah. Kalau orangnya datang, baru dibuatkan.” “Oke siap. Nanti langsung ditancap.” Nesha memang tidak perlu meragukan kinerja para karyawannya. Selama ini pekerjaan mereka selalu memuaskan. Tidak sekali pun membuat kesalahan fatal dan poin utamanya, mereka semua ramah. Karena itu toko bunga miliknya tidak pernah sepi pelanggan. Drttt! Giliran ponsel Nesha yang bergetar. Cepat Nesha melihat nama yang tertera dan begitu saja mengangkat telepon yang ternyata dari Teguh Pradipta—kekasih hatinya. “iya, Mas?” “Maaf tidak bisa bertemu sekarang, Nesha. Aku baru saja kedatangan saudara dari luar kota.” Ada sedikit kecewa yang terasa karena beberapa hari ini dia dan Teguh tidak bertemu walau sebentar. Teguh sibuk mencari referensi untuk restoran barunya dan sekarang, masih juga ada halangan. “Ya sudah, Mas. Tidak apa-apa.” “Nanti aku hubungi lagi ya? Love you.” “Love you too.” Nesha meletakkan ponselnya. Sebenarnya, ada bagusnya juga dia dan Teguh tidak bertemu sekarang karena dia punya waktu untuk menyusun kata-kata yang pas. Kata-kata yang sekiranya membuat ancaman kakaknya tersampaikan tapi tak membuat Teguh tertekan juga. Selain itu, bagaimana dia akan mengatakan jika sebelumnya dia pernah tidur dengan seorang pria? Apakah Teguh akan menerima? “Ah ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan sekarang?” Nesha mengusap wajah kasar. Dia tidak ingin ada kebohongan sebelum hubungan ini dilanjutkan. Bukankah lebih baik mengakui sekarang daripada membuat Teguh kecewa setelah pernikahan? Dulu dicampakkan, tidak mungkin ‘kan di masa sekarang dia menjadi janda bahkan sebelum 24 jam?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD