“Dita, aku tidak ke toko hari ini. Tolong sampaikan kepada yang lain.”
Pagi-pagi sekali Nesha menghubungi Dita. Iya karena hanya Dita yang gabut dengan ponselnya saat 4 karyawan lainnya sibuk menata bunga. Dita memang bertugas meng-upload atau membagikan karya-karya mereka ke sosial media.
“Apose Bu Bos? Apakah Bu Bos demam karena datang bulan lagi? Mau saya belikan Kinanti?”
Nesha memijat pelipisnya pelan. Jika saja Dita ada di depannya, sudah dia ketuk kepala Dita yang suka memakai karangan bunga dengan gemas.
“Aku ada janji dengan Mas Teguh. Jadi, tolong hendel semuanya sampai aku datang ya?”
“Oke siap.”
“Selalu ingat pesanku juga, Dita.”
“Layani pelanggan seperti raja? Ya ..., tentu saja Dita yang sexy sejagat raya ini ingat, Paduka.”
“Ya sudah. Aku tutup teleponnya.”
Nesha menutup sambungan teleponnya.
Segera dia mengambil tas kecil yang tergeletak di ranjang kemudian bergegas keluar. Teguh mungkin sudah menunggunya jadi dia tidak boleh datang terlambat.
Beberapa menit kemudian.
Nesha sudah sampai di restoran dan ternyata, dugaannya tadi salah. Teguh belum sampai jadi dia lah yang harus menunggu kedatangannya—seperti biasa. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena tak lama kemudian Teguh datang.
“Sudah lama?” tanya Teguh seraya mempersembahkan senyum terbaiknya. Sebentar dia memeluk Ganesha sebelum akhirnya duduk di sana. “maaf terlambat. Tadi masih ada pekerjaan.”
“Baru sampai kok, Mas. Nih belum pesan minuman.”
“Astaga ... kamu pasti kehausan.” Teguh mengangkat tangan. “pelayan.”
Inilah yang membuat Nesha jatuh hati pada Teguh Pradipta.
Pria itu begitu pengertian, dewasa dan tak pernah keterlaluan. Teguh juga tidak pernah mempermasalahkan apa pun yang dia lakukan, mau di mana pun dia dan sedang bersama siapa. Namun, kakaknya yang memiliki IQ di atas rata-rata itu justru mengatakan jika yang Teguh lakukan bukan karena pengertian melainkan pria itu tak peduli apa pun tentangnya. Radika bahkan memperjelas bahwa Cinta itu berarti over protektif dan cemburuan, sedangkan Teguh minus dari itu semua.
Ah, kata-kata kakaknya pasti Cuma memanas-manasi saja. Padahal jika dilihat dari bagaimana pria itu bekerja keras hingga memiliki beberapa restoran dan hotel cukup megah di ibukota, tentu Teguh Pradipta adalah calon menantu yang cocok untuk keluarganya.
“Jadi bagaimana? Apakah Mas sudah dapat referensi untuk restoran barunya?” Nesha basa-basi sebelum ke inti pembicaraan dan ya Tuhan, tangannya bahkan sudah gemetar.
“Iya. Sudah ada beberapa referensi dari restoran Bali yang aku kunjungi kemarin. Hanya perlu menentukan mana yang lebih diminati.”
“Syukurlah.” Nesha meneguk minuman sebentar. Bersiap mengatakan misi penting yang dia bawa dari rumah walau perasaan waswas menerpanya. Bagaimana jika Teguh menanggapi dengan ketus lalu mengajak putus?
Nesha menahan napas. Sejak saat itu, apa pun langkahnya selalu disertai dengan keraguan dan bermacam pemikiran tak mendasar. Harusnya dia mencoba saja karena tidak semua lelaki sama berengseknya.
“Mas?” akhirnya keberanian Nesha muncul. Benar berhasil membuat Teguh Pradipta menatapnya dengan penuh.
“Ada apa? Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan?” Teguh memegang tangan Nesha hangat.
Sekali lagi Nesha menghela napas. Mulai menghitung mundur karena inilah saat yang tepat untuk mengatakan semuanya. “Aku tidak bermaksud meragukan perasaan Mas Teguh tapi kakakku meminta hubungan kita dibawa ke jenjang yang lebih serius.”
Netra keduanya berpandangan lekat.
Pipi Nesha sampai terasa panas saking takutnya Teguh salah paham.
Apalagi pria itu belum mengatakan sepatah kata kecuali ... mengernyitkan sebelah alisnya.
Nesha mulai merasa sesak. Rasa tak percaya diri dan bersiap dicampakkan itu kembali. “Aku minta maaf jika Mas merasa tersinggung tapi—“
“Tidak apa-apa, Nesha. Aku mengerti maksud kakakmu. Kita berdua sudah sama-sama siap untuk berkeluarga dan hubungan kita pun sudah terjalin cukup lama.” Jawaban lemah lembut pria itu, tentu membuat Nesha menegak punggungnya. “Namun, masih banyak hal yang ingin aku raih sebelum meminangmu. Aku masih butuh waktu.”
Lagi?
Jawaban Teguh bahkan belum berubah sedikit pun sejak 2 tahun terakhir.
“Kita bisa melakukannya bersama, Mas.” Nesha meyakinkan sekalipun situasi ini membuatnya teringat akan hal menyakitkan yang terus membekas. Sekali lagi, dia merendah seperti tak layak diperjuangkan. “aku janji akan selalu mendukung yang Mas Teguh lakukan.”
Teguh diam.
Raut wajah tegang pria itu hampir membuat Nesha menyerah. Namun, kata-kata Teguh selanjutnya, telah memberi Ganesha secercah harapan jika hubungan ini memang layak diperjuangkan.
“Kapan kamu siap bertemu keluargaku?” Teguh menatap Nesha dalam. “sekalipun belum meresmikan hubungan, setidaknya kamu tahu jika aku sungguh-sungguh, Ganesha.”
Nesha menelan saliva kasar. Mendadak dia yang tidak siap padahal momen inilah yang dia nantikan. “Kalau besok malam bagaimana, Mas?”
“Boleh.”
Pertemuan keduanya berakhir beberapa menit setelahnya karena Teguh masih ada pekerjaan, dan Ganesha pun kembali ke toko bunga sebelum melanjutkan rencana selanjutnya.
Sebelum menginjakkan kaki di rumah Teguh Pradipta, tentu dia harus meminta arahan kepada Dinara, satu-satunya sahabat yang dia punya dan tentulah berpengalaman.
“Bu Bos, ternyata yang memesan bunga kemarin bukan manusia jadi-jadian. Baru beberapa menit yang lalu pria itu datang,” celotehan heboh Dita menyambut kedatangan Nesha. “astaga Bu Bos. Baru kali ini, Dita melihat pria se hot tadi. Wajahnya tampan, tubuhnya tinggi kekar, rahangnya tegas, ah ... pokoknya bikin Dita kejang-kejang.”
Nesha tertawa. Tak memedulikan celotehan Dita yang sudah biasa dia dengar saat ada pelanggan pria tampan, dia pun mengalihkan topik pembicaraan. “jadi si tidak sopan itu membeli bunga apa?”
“Mawar merah,” Dita memperjelas. “pasti untuk kekasihnya.”
“Wah ... Wanita mana yang betah menjalin hubungan dengan pria se menyebalkan dia?” Nesha sampai tak bisa berkata-kata. Teringat bagaimana ketusnya pria itu saat berbicara bahkan menutup telepon sepihak—secara tidak sopan. “pasti kesabaran kekasihnya seluas samudera.”
Dita membenarkan.
“Ya sudah. Aku pergi dulu ya?”
“Mau ke mana lagi Bu bos?”
“Ke rumah, Nara. Jadi hari ini aku absen seharian. Dadah ....” Nesha menepuk pundak Dita. Berlanjut melambaikan tangan kepada karyawan lain yang sedang melayani pelanggan.
Sempat Nesha mampir sebentar di supermarket untuk membeli buah dan makanan ringan untuk jagoan kecilnya dan tak lama kemudian, Nesha pun sampai.
“Selamat pagi menjelang siang pak Burhan,” sapa Ganesha begitu memarkirkan motornya di halaman rumah. “ada tamu di dalam?” tanyanya begitu melihat mobil yang bukan milik keluarga Daniswara. Sungguh, rumah itu sudah seperti rumah kedua baginya.
Pak Burhan yang saat itu menyiram tanaman hanya mengangguk pelan. “Sudah masuk saja, Non. Tuh mumpung pintunya belum ditutup.”
Lelucon pak Burhan membuat Nesha tersenyum pelan. Segera dia melanjutkan langkah. Bersama 2 kantung plastik seraya tersenyum merekah. Kabar bahagia bahwa besok malam dia akan bertemu dengan keluarga Teguh, tentu akan membuat Nara senang juga.
“Nara? Dua jagoan Bibi, di mana kalian?” Nesha celingak-celinguk begitu menginjakkan kaki di ruang tamu. Biasanya jam segini dua bocah itu masih lari-larian ke sana kemari. “ada di mana mereka? Kenapa sepi sekali?”
Nesha melanjutkan langkah. Hendak menuju kamar dua bocah kesayangannya tetapi langkahnya ter cegat di ruang tengah—begitu saja.
Srak!
Bukan hanya senyum Ganesha yang hilang, kantung plastik yang Nesha pegang pun tanpa sadar telah jatuh ke lantai. Menimbulkan suara yang menarik perhatian dua lelaki beda usia di depan sana, hingga rasa tak percaya atas apa yang Nesha lihat pun telah membuat raut wajahnya berubah pucat. Terlebih saat tatapannya beradu pandang dengan tatapan dingin yang membuatnya amat terluka 6 tahun silam.
Benarkah yang bermain dengan Bhumi di depan sana adalah b******n itu?
“Ganesha?”
Suara Nara tak lagi terdengar karena detik itu juga, Nesha telah meninggalkan pijakan. Lari dari kenyataan yang tidak mungkin dia terima begitu saja. Menyela dari kata damai yang tidak mungkin dia berikan secara cuma-cuma. Amat tidak sudi berada di ruangan yang sama dengan Kenan Nugraha yang sudah menguasai semua perasaan benci serta marahnya.
“Harusnya pria itu sudah mati. Untuk apa kembali lagi?”
“Berhenti, Ganesha!” Nara berhasil meraih tangan Ganesha—tepat sebelum Ganesha membuka pintu utama.
Andai dia tahu Ganesha akan mengunjunginya, tentu dia akan mencegah wanita itu datang. Namun, datangnya Kenan Nugraha juga sebuah kejutan jadi dia pun tidak menyangka jika keduanya akan bertemu sekarang. “aku mohon dengarkan aku dulu.”
“Biarkan aku pulang, Nara.” Nesha berusaha melepaskan tangan Nara yang menahannya. Debar jantung dan bermacam perasaan yang sulit dijelaskan sampai membuat ketenangan Nesha lenyap. “aku tidak bisa berada di sini sekarang. Aku akan datang—“
Nara merengkuh tubuh Nesha yang gemetar. Tanpa Nesha jelaskan, dia sudah tahu bagaimana perasaan Nesha sekarang. “Aku juga terkejut mengetahui Kenan berdiri di depan pintu. Sungguh aku minta maaf karena tidak memberitahu.”
“Tidak apa-apa.” Nesha berusaha tetap tenang walau perasaannya menjadi semakin berantakan. “aku pamit. Sampai jumpa.”
Nara tak bisa bertindak apa-apa untuk mencegah kepergian sahabatnya.
Hari ini, untuk pertama kali setelah 6 tahun terakhir dia membiarkan Nesha pergi tanpa menumpahkan kemelut di hati. Mengesampingkan ego untuk menahan Nesha di sini karena di dalam sana ada seseorang yang sangat Nesha benci.