Bab 9

839 Words
Angel mengumpati dirinya sendiri karena kebablasan mengeluarkan suaranya. Dia kembali memberontak dengan membuang wajahnya sedari tadi namun brengseknya Dante selalu menyosornya. "Mana suara indahmu tadi?" Dante malah menggoda Angel yang membuat dia benar-benar semakin kesal. "Lepaskan aku dan jangan menjadi pria b******k dan pengecut karena memaksa wanita untuk melayani nafsumu." Ucap Angel menatap tajam ke arah Dante. Dante tersenyum dan akhirnya melepaskannya. "Kau milikku, Angel!" Dante masih saja mengklaim Angel tanpa memperdulikan wajah Angel yang sedari tadi marah dengannya. "Kau tidal berhak atas diriku." Angel menolak namun Dante terlihat tidak peduli. "Sejauh ini tidak pernah ada yang menolakku dan kau satu-satunya wanita yang menolakku, semakin kau menolak, maka akan semakin besar gairahku kepadamu." Ucap Dante. "Sinting! Kau pria sinting!" Umpatnya yang membuat Dante semakin tertawa. Dia mengambil ponselnya karena sedari tadi berbunyi, hanya saja dia abaikan karena tidak mau terganggu saat dia bersama Angel. Angel yang merasa Dante lengah memilih untuk berlari ke arah pintu namun sialnya dikunci olehnya. "Aku belum memintamu pergi! Kita masih ada urusan, Baby." Ucap Dante tanpa melihat ke arah Angel dan fokus dengan ponselnya. "Aku sudah katakan jika aku akan mengganti rugi, aku— Angel tidak menerurkan perkataannya karena tangan Dante mengkodenya agar dia tidak berbicara dulu, dia sedang mengangkat telefon dari seseorang. Angel benar-benar kesal dengan pria di depannya namun dia mengerutkan dahinya ketika Dante merubah raut wajahnya menjadi terkejut. "Bagaimana bisa!" Dante marah namun terlihat khawatir yang entah karena apa. "Sial!" Umpat Dante yang terlihat langsung mematikan sambungan telefonnya dan menghubungi seseorang lagi, Angel mengira jika dia menghubungi asistennya. "Urusan kita belum selesai, kita akan segera bertemu lagi." Ucap Dante yang mencuri ciuman di bibir Angel ketika dia melongo. Angel jelas saja terkejut namun dia tidak bisa protes karena Dante langsung pergi dari sana begitu saja. "Dia benar-benar b******k!" Gumamnya. Angel tidak peduli apa yang sudah terjadi dengan Dante, yang terpenting adalah dia bisa keluar dari ruangan Dante. Angel sedikit berlari dan langsung masuk ke dalam lift, dia menghela nafas panjangnya karena akhirnya dia bisa benar-benar pergi dari sana. "Aku beeharal tidak pernah bertemu lagi dengannya." Gumma Angel. Namun saat dia di dalam lift, tak lama ponselnya berbunyi. Dia tidak mengangkatnya karena panggilan itu dari Ethan. "Kenapa aku di kelilingi pria brengsekk seperti mereka." Omelnya. Angel tidak menjawabnya sampai dia di mobil, namun saat mau menyalakan mobilnya, Angel melihat ada pesan masuk yang jelas sudah pasti itu adalah dari Ethan. Dia benar-benar mengabaikannya, dia malas karena hari ini dia sudah ketimpa sial, dia tidak ingin melihat pesan dari pria brengsekk seperti Ethan. Angel menghela nafas panjangnya dan memilih untuk kembali ke apartemen. Dia cukup lelah hari ini dan ingin beristirahat sejenak. "Brengsekk!" Angel lagi-lagi mengumpat karena ada yang menghubunginya, dia melihatnya dan mengira jika itu adalah panggilan dari Ethan namun ternyata perawat ibunya yang menghubunginya. "Aku harap semuanya baik-baik saja." Gumam Angel, tadinya dirinya kesal dan marah namun berubah menjadi khawatir sendiri, dia menghubungi perawat itu lagi karena panggilannya sudah mati. "Halo! Ada apa? Ibuku baik-baik saja bukan?" Tanya Angel. "Nona, ibu anda di bawa oleh Tuan Ethan, aku sedari tadi sudah mencoba menghubungi anda tapi tidak bisa." Ucap perawat itu di seberang sana yang membuag Angel sangat terkejut. "A-apa? Bagaimana bisa?" "Dia menggunakan kekuasaannya dan membuat para dokter tidak berdaya untuk melawannya, maaf Nona, aku tidak bisa melakukan apapun." Angel mengingat jika sedari tadi Ethan menghubunginya dan mengirimkan pesan kepadanya, dia akhirnya mengakhiri pembicaraannya dengan perawat ibunya dan langsung membuka ponselnya. Tujuannya adalah membuka pesan yang dikirimkan oleh Ethan tadi yang entah itu apa. Dia semakin shock ternyata dia mengiriminya vidio tentang ibunya yang berada di sebuah ruangan kumuh. Angel jelas langsung menghubunginya namun Ethan tidak mengangkatnya, sampai ketiga kalinya, Ethan baru mengangkatnya namun yang dia dengar pertama kali adalah suara tawanya. "Bukankah kau tadi tidak mengangkat telefonku? Sekarang kenapa kau menghubungi sampai beberapa kali? Apa ada sesuatu yang menganggumu, Sayang?" Ucap Ethan di seberang sana yang membuat Angel benar-benar marah. "Ke mana kau membawa ibuku, Ethan!" Angel bahkan sedikit berteriak karen marah ketika Ethan menyentuh ibunya. "Aku hanya membawanya agar putrinya tidak macam-macam denganku." "Lepaskan ibuku atau kau akan menyesal." Ucap Angel. "Menyesal?" Beonya sambil tertawa. "Jika aku membuatnya mati, apakah menurutku aku yang menyesal?" Lanjutnya. "Kau lah yang menyesal, karena ibumu nantinya mati akibat tidak patuh denganku." Angel mengepalkan tangannya, sejujurnya dia sangat takut karen Ethan melakukan hal yang nekat dengan ibunya. "Lepaskan ibuku!" Ucap Angel. "Tidak, sampai kita menikah nantinya, dia akan berada di tanganku." "Apa kau benar-benar keluarga Sinclair? Kau tidak memiliki hati! Keluargamu adalah keluarga terhormat tapi bagaimana bisa mengancam seseorang." Ucap Angel. "Semua akan aku lakukan jika itu menguntungkan bagiku, dan aku akan melakukan apapun yang berusaha menghalangi jalanku." "Untuk itu lebih baik kau menurut dan jangan sampai ibumu yang menanggung akibatnya." "Jika kau menurut, aku akan memperlakukan ibumu dengan baik dan akan membayar semua pengobatannya sampai sembuh." Ucap Ethan. "Aku tidak percaya denganmu!" Ucap Angel. "Terserah padamu, Angel! Aku hanya ingin kau menurut dan tidak bertindak macam-macam, menikah dengan tenang lalu aku mendapatkan segalanya, baru kau bisa bebas." Ucap Ethan lalu mematikan sambungan telefonnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD