Bab 17

1245 Words

Pagi itu, sinar matahari masuk lembut melalui tirai tipis kamar besar yang dulu menjadi saksi pernikahan Zenia dan Carlo, karena hanya seminggu dirinya dan Carlo menempati kamar ini dulu, lalu Carlo menyediakan dirinya kamar lain. Udara di dalam kamar terasa sepi, dingin, dan menyakitkan. Di dinding, tergantung foto besar Carlo dengan jas abu-abu kebanggaannya, tersenyum dengan sorot mata yang teduh. Lelaki tua itu memang punya wajah tegas, tapi di baliknya tersimpan ketulusan yang sulit dicari di dunia seperti sekarang. Zenia berdiri di depan foto itu, masih dengan sisa lelah di matanya. Pesta semalam membuat rumah ini seperti neraka. Pecahan gelas di mana-mana, aroma alkohol yang belum hilang, dan kenangan tentang tawa kasar para tamu Matteo masih menari di kepalanya. Ia menatap foto Ca

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD