“Ara, Mas enggak papa, lho. Udah, nangisnya ...” Mas Davka kembali mendekat dan mengusap air mataku dengan sapu tangannya. “Mas baik-baik aja. Ini cuma lecet dikit. Mas minta maaf, ya, karena udah bikin kamu khawatir” “E-enggak perlu m-minta maaf,” sahutku pelan dengan suara agak terbata. Saat ini Mas Davka masih duduk di ranjang rumah sakit, sementara aku duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Secara keseluruhan, Mas Davka memang tidak kelihatan ada yang lecet kecuali bagian kepala. Dahi kanannya diplester cukup lebar karena kepalanya membentur kemudi. Mas Davka bilang, tadi dia buru-buru ingin pulang karena beberapa kali mendapat pesan dari Bi Tini kalau aku di rumah sedang mulas-mulas. Hal itu membuatnya tidak fokus mengemudi. Karena tidak fokus itu, dia hampir saja menabrak penju

