“Ara, perutmu itu udah gede banget, lho. Bisa-bisanya masih nekat kuliah? Enggak habis pikir, aku,” ujar Veve sembari mengapit tanganku dan menuntunku menuruni tangga menuju lantai satu. “Pak Davka enggak ngelarang, kah?” “Udah, Ve. Mas Davka udah ngelarang dan nyuruh aku buat izin aja, tapi akunya yang enggak mau. Ini hari terakhir aku kuliah semester dua soalnya.” “Minggu besok udah minggu tenang, ya?” Aku mengangguk. “Iya.” “Duduk dulu, Ra. Ke parkirannya setelah istirahat sebentar. Bumi enggak boleh capek-capek.” Veve setengah menarikku untuk duduk begitu kami tiba di lantai satu. Hari ini Veve mendadak menyusulku ke kampus karena dia bilang kangen sekali denganku. Sejak kami lulus, memang intensitas bertemu sudah jauh berkurang. Dengan Rahma pun sama. Apalagi anak itu sudah

