“Tuh, kan! Udah tutup, lho, kak.” Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menahan emosi karena jam setengah sepuluh malam masih harus di luar mencarikan bahan untuk tugas sekolah Rafan. Anak itu duduk diam di jok belakang sambil menatapku takut-takut. “Sayang, udah ...” Mas Davka mengusap pundakku beberapa kali. “Ya Rafan itu lho, Mas. Dari siang tadi udah aku tanya, ada PR enggak, bilangnya enggak. Giliran udah malam, baru bilang ada PR suruh bawa kertas A3 sama karton. Mana buat besok pagi jam 7!” Aku kembali menoleh ke belakang dan kulihat Rafan hanya menunduk sambil meremas jarinya. Sebenarnya aku tidak tega memarahinya, tetapi ini sudah ketiga kalinya anak itu lalai dengan tugas sekolahnya. “Kakak enggak catat PR-nya, kah, sampai lupa lagi begini?” tanya Mas Davka yang langs

