bc

Oh! Tuan Muda Bikin Nagih

book_age18+
4
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
forbidden
contract marriage
one-night stand
family
HE
love after marriage
age gap
fated
friends to lovers
playboy
arrogant
badboy
kickass heroine
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
loser
single daddy
city
childhood crush
disappearance
lies
secrets
poor to rich
friends with benefits
addiction
assistant
like
intro-logo
Blurb

Stella Atmadja kehilangan segalanya dalam satu hari. Ayahnya meninggal, warisannya dirampas, rumahnya direbut, dan ibunya terancam mati di rumah sakit.

Karena putus asa, ia menerima pekerjaan “aneh” sebagai pelayan pribadi seorang tuan muda konglomerat.

Masalahnya? Tuan muda itu … i***t. Atau setidaknya, itu yang semua orang lihat.

Kharel Wiratama tampak seperti pria aneh yang sulit diatur. Namun di balik sikapnya yang tidak masuk akal, tersembunyi rahasia yang sangat gelap.

Stella awalnya hanya berniat bertahan hidup. Tapi semakin lama ia berada di sisi Kharel, semakin ia terjebak dalam permainan berbahaya yang melibatkan kekuasaan, gairah terlarang … dan obsesi.

“Lari lagi dari aku, coba. Biar aku kasih tahu … seberapa jauh kamu bisa pergi sebelum aku tarik balik.” – Kharel Wiratama

chap-preview
Free preview
Cup Cup
Cup! Cup! Cup! Suara kecupan basah yang terdengar nikmat itu menggema berulang kali di ruangan yang sunyi. “Awh …!” Stella mengerang dan mengerjapkan matanya perlahan dengan berat seperti membawa batu di dalam batok kepalanya. Pandangannya buram, napasnya terasa aneh, dan tubuhnya lemas. Apa … yang terjadi? Ia mencoba mengangkat tangan, tapi terasa berat. Saat matanya akhirnya terbuka penuh, pemandangan di depannya langsung membuat jantungnya hampir copot. Seorang pria sedang menunduk di lehernya. Mengecupi tulang selangkanya dengan penuh khidmat. Bukan pria sembarangan, wajahnya terlalu tampan untuk ukuran manusia biasa-biasa saja. Rahangnya tegas seperti pahatan surgawi, hidungnya mancung, dan mata tajamnya setengah terpejam saat bibirnya menyentuh kulit Stella seolah itu candu favoritnya. Dan yang paling menyebalkan … aura psiko itu masih sama seperti dulu. Stella langsung tersentak shock. “K-Kharel?! Kamu! Dasar lelaki gila! Kamu ngapain?!” Pria itu berhenti, lalu perlahan mendongak. Wajah mereka sekarang cuma berjarak beberapa sentimeter saja. Napasnya hangat dan sudut bibirnya terangkat seperti singa yang baru saja menangkap ‘rusa’nya. “Kamu pikir …,” gumamnya dengan suara bariton yang menggetarkan jiwa kaum hawa, “kamu bisa lari dari aku?” Stella meneguk ludah. Ya … dia memang sedang kabur. Sudah sebulan ini dia memblokir nomor Kharel. Menghapus semua chat antara mereka berdua. Menghilang dari apartemen yang dibelikan pria itu, bahkan sampai resign dari pekerjaannya. Tapi, tak pernah sedikit pun terlintas di kepalanya kalau lelaki ini akan segila ini! Ya Tuhan! Stella menatap sekeliling dengan panik. Ruangan ini bukan apartemennya. Dia langsung mencoba mendorong tubuh Kharel. “Tuan Muda Wiratama!” bentaknya, “kontrak kita udah selesai sebulan yang lalu!” Kharel tidak bergeming sedikit pun. Justru matanya menyipit, lalu perlahan ia menggigit bibir bawahnya, seperti sedang menahan sesuatu yang lebih liar dari sekadar amarah. “Selesai?” ulangnya pelan dengan suara bariton itu. Tangannya turun ke perut Stella. Telapak besar itu berhenti di sana, mengelus perlahan perut yang masih ramping itu. “Dengan rahim kamu,” bisiknya, “yang sedang bawa anak aku?” Stella membeku. Bagaimana dia bisa tahu?! Kharel tersenyum tipis. “Never.” Dia menunduk lagi, mendekat ke telinga Stella, berbisik dengan suara yang mengunci seperti borgol. “You’re stuck with me, Stella. For..e..ver.” “Ahh!” Stella menjerit saat jemari panjang Kharel mulai bermain-main di kemahkotaannya, sesuatu yang telah menjadi candu Kharel semenjak berbulan-bulan lalu. * * 5 bulan yang lalu … Bip Suara mesin debit berbunyi lagi. Entah sudah kartu keberapa yang ia coba, tapi hasilnya tetap sama. DITOLAK! Stella menahan napasnya. Jemarinya mulai dingin saat ia menggenggam kartu kredit itu lebih erat, seolah dengan begitu angka di dalamnya bisa berubah. “Maaf, Mbak …,” suara staf administrasi terdengar hati-hati, tapi sudah jelas penuh simpati, “yang ini juga tidak bisa.” Stella menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat kering. “Tolong coba sekali lagi, Mbak,” mohonnya pelan, tapi ada getaran panik yang tidak bisa ia sembunyikan, “mungkin tadi error ….” Staf itu ragu sejenak, tapi tetap menggesek kartu itu lagi. Bip TETAP DITOLAK! Stella menutup matanya. Hari ini adalah deadline. Jika hari ini ia tidak membayar, perawatan ibunya … yang sudah berbulan-bulan berjuang melawan penyakit itu, akan dihentikan. Dan Stella sudah tidak punya siapa-siapa lagi, hanya ibunya. “Mbak ….” Staf itu menatapnya dengan raut tidak enak. “Mungkin bisa coba metode pembayaran lain?” Metode lain? Stella hampir ingin tertawa. Namun, yang keluar justru hanya hembusan napas yang terasa kosong. Sejujurnya, hari ini adalah hari terburuk dalam hidupnya. Beberapa hari yang lalu, ayahnya … meninggal. Bukan meninggal dengan tenang. Tapi meninggal setelah satu tahun penuh disiksa oleh kanker yang perlahan menggerogoti tubuhnya sampai tidak tersisa apa-apa. Dan Stella? Bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal dengan layak. Ia menelan ludah mengingat kejadian itu lagi. Dadanya terasa sesak. Namun, itu belum yang paling menyakitkan. Pagi tadi, di sebuah ruangan penuh dokumen dan tanda tangan, seorang notaris dengan wajah profesional tanpa emosi ataupun empati membacakan isi wasiat. Di sanalah dunia Stella benar-benar runtuh. “Seluruh aset, saham, properti, dan kepemilikan atas nama almarhum akan diwariskan kepada istri kedua serta kedua putrinya.” Stella masih ingat bagaimana tangannya langsung membeku di pangkuannya. “Tidak ada penyebutan nama Stella Atmadja maupun Rika Atmadja dalam pembagian warisan.” Kalimat itu … seperti palu yang menghantam tepat di kepalanya. Ibunya, Rika Atmadja, adalah istri pertama. Wanita yang telah mendampingi ayahnya dari nol. Selalu setia dan tidak pernah meninggalkan walaupun setelah sukses ayahnya mengambil istri kedua. Tapi akhirnya apa? Ia malah ditinggalkan … tanpa apa-apa. Sementara duduk di seberangnya, satu wanita paruh baya dan dua wanita muda yang merupakan ibu tiri dan adik tirinya memancarkan senyum. Dan sekarang, di sinilah dia. Di rumah sakit dengan kartu yang satu per satu … tidak lagi ada gunanya. Semua kartu kredit yang dulu diberikan ayahnya sepertinya sudah diblokir. Tanpa pemberitahuan atau pun penjelasan. Jemari Stella gemetar, matanya mulai panas. Tapi tentu saja dia menahan. Tidak! Dia tidak boleh menangis di sini. Karena di lantai atas, ibunya masih berjuang hidup. “Kalau tidak dibayar secepatnya …,” suara staf itu terdengar pelan, “perawatan akan dihentikan sementara, Mbak.” Kata-kata itu menghancurkan pertahanan terakhir Stella. Dunia terasa menyempit sampai seolah-olah oksigen di ruangan itu tiba-tiba hilang. “Ibu saya …,” suara Stella pecah, tapi ia tetap memaksa berdiri tegak, “dia masih butuh perawatan. Dia nggak bisa—” Kalimatnya terhenti. Karena dia sendiri tahu, bahwa di dunia ini, uang adalah segalanya. Kesunyian beberapa detik itu terasa sangat panjang. Lalu perlahan, Stella mengangkat tangannya ke lehernya …

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook