Jemarinya menyentuh sesuatu, sebuah kalung emas. Itu satu-satunya benda yang tidak pernah ia lepas sejak remaja. Kalung itu adalah pemberian ibunya. Saat hidup mereka masih … hangat. Saat semuanya belum sehancur sekarang.
Jemari Stella gemetar, pelupuk matanya yang panas membuat ia menunduk sedikit. Matanya terpejam beberapa detik, seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
Maaf, Ma.
Klik
Dia membuka kait kalung itu perlahan. Seperti sedang melepaskan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar emas semata. Staf administrasi sampai terdiam memperhatikan, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Stella mengangkat kalung itu lalu menaruhnya di atas meja dengan tangan yang masih sedikit bergetar.
“Tolong …,” suaranya pelan, tapi kali ini ada ketegasan di dalamnya, “simpan ini sebagai jaminan.”
Staf itu langsung terkejut. “Mbak … ini—”
“Kasih saya waktu tiga hari,” lanjut Stella sambil menatap lurus, memaksa dirinya tetap kuat meskipun hatinya saat ini sudah luluh lantak, “saya akan melunasi semuanya. Saya janji.”
Staf itu terlihat bingung. Tatapannya bergerak bergantian antara Stella dan kalung itu.
“Mbak, ini tidak sesuai prosedur,” ucapnya ragu.
Stella mengepalkan tangannya. “Ini emas. Nilainya nggak kecil. Kalau saya gagal bayar, kalian bisa ambil ini.”
Nada suaranya tidak lagi memohon. Tapi sekarang … bertaruh dengan satu-satunya hal yang masih ia punya.
Staf itu menggigit bibirnya pelan, jelas terlihat tidak tega. “Saya … coba tanyakan atasan saya dulu ya, Mbak.”
Stella mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi.
Beberapa menit kemudian, yang terasa seperti berjam-jam, staf itu akhirnya kembali.
“Mbak …,” katanya pelan.
Stella langsung menatapnya. Jantungnya berdegup kencang sampai telapak tangannya terasa dingin sekali.
“Kata atasan saya boleh.”
Satu kata itu langsung membuat napas Stella terlepas.
“Tapi Mbak harus tanda tangan perjanjian,” lanjut staf itu sambil menggeser sebuah formulir, “batas waktunya tiga hari. Kalau lewat dari itu ….”
Ia tidak melanjutkan, tapi jelas Stella mengerti.
Stella menatap kertas itu. Tulisan-tulisan kecil yang terlihat seperti jerat. Namun, ia tidak punya pilihan. Tangannya mengambil pulpen dan menandatangani formulir itu. Satu goresan yang terasa seperti mengikat hidupnya ke arah yang tidak ia tahu.
Staf itu menarik kembali formulirnya.
“Baik, Mbak. Untuk sementara, perawatan ibunya akan tetap dilanjutkan sampai tiga hari kedepan.”
Kalimat itu akhirnya memberi Stella sedikit ruang untuk bernapas. Cukup untuk membuat kakinya masih bisa bergerak. Tanpa menunggu lagi, Stella langsung berbalik. Langkahnya cepat, hampir berlari keluar dari rumah sakit. Tasnya ia genggam erat.
Tiga hari. Dia hanya punya tiga hari!
Begitu sampai di luar rumah sakit, ia langsung menaiki taksi. Sepanjang perjalanan, pikirannya berputar liar. Barang … dia masih punya beberapa barang yang bisa dijual. Perhiasan lain, tas, sepatu … apapun. Yang penting masih bisa dijual.
Selang beberapa saat, taksi berhenti di depan sebuah kediaman besar yang mewah. Stella langsung turun tanpa banyak bicara setelah membayar.
Rumah ini, yang dulu terasa hangat, sekarang … terasa menyesakkan! Asing! Seperti bukan miliknya lagi. Stella masuk dengan langkah cepat, bahkan tidak menyapa siapa pun. Tidak peduli jika ada tatapan dari para asisten rumah tangga. Dia langsung menuju lantai dua, di mana kamarnya berada.
Ketika pintu dibuka, alangkah kagetnya Stella. Kamarnya sangat berantakan. Lemari dan laci-laci terbuka lebar. Barang-barangnya berserakan di lantai seperti habis diacak-acak oleh pencuri!
“Apaan-apaan …?” bisiknya pelan, tapi nada suaranya naik, dipenuhi ketidakpercayaan.
Namun hanya butuh satu detik untuk dia sadar. Ini sama sekali bukan ulah pencuri. Dia tahu persis siapa pelakunya.
“Lisa ….”
Salah satu adik tirinya. Yang dari dulu, tidak pernah tahu batas. Yang selalu mengambil barangnya seenaknya tanpa izin atau pun rasa bersalah.
Dan hari ini, di saat Stella sedang hancur-hancurnya, dia masih berani melakukan ini.
Napas Stella mulai tidak teratur. Amarah mulai naik secara cepat ke otaknya. Marah yang sudah terlalu lama ditahan. Tanpa berpikir panjang, Stella langsung berbalik. Langkahnya cepat hampir menghentak.
Menuju satu tujuan, yaitu kamar Lisa.
Semakin dekat ke sana, napasnya semakin berat.
Dan tepat saat ia berdiri di depan pintu itu, dia mendengar sesuatu. Suara yang teredam. Lirih, namun cukup jelas.
“Ahh … Nick … terus!”
Stella membeku.
“Masukin lidah kamu.”
Jantungnya langsung jatuh.
Nick?
Nick …?!
Pikiran Stella kosong seketika, ia menolak percaya.
BRAKK!
Dengan gerakan kasar, pintu itu dibuka tanpa diketuk. Dan dalam satu detik, segala sesuatu … hancur.
Di atas tempat tidur adik tirinya itu, seorang pria yang sangat ia kenal, sangat ia cintai selama empat tahun ini. Jangkar hidupnya yang selalu bersikap lembut padanya dan mendengarkan keluh kesahnya setiap hari sebelum tidur … Nick. Sedang berada di sana.
Posisi yang tidak mungkin disalahartikan. Kepala pria itu diapit di antara paha Lisa yang sedang terbuka lebar tanpa memakai sehelai benang pun. Bau kamar itu bahkan membuatnya muak. Aroma gairah yang tidak mungkin disangkal!
Stella berdiri kaku di ambang pintu. Napasnya serasa hilang dan untuk beberapa detik … tidak ada suara. Hanya keheningan yang terasa lebih memekakkan daripada teriakan.
Nick menoleh. Seketika, rona wajahnya langsung memucat!
“Stella!”
Lisa juga menoleh. Dan alih-alih panik, dia justru tersenyum santai. Seolah yang tertangkap basah bukanlah dia.
“Eh,” ucap Lisa ringan, bahkan tanpa usaha menutupi dirinya, “lo kok udah balik dari rumah sakit?”
Perlakuan itu seperti tamparan keras yang memalukan. Tangannya gemetar, seluruh tubuhnya terasa dingin. Serasa seluruh darah surut ke kakinya.
Namun, alih-alih menangis, Stella melangkah cepat! Di dalam dirinya, sesuatu justru … retak. Batinnya berteriak putus asa.
Tahan, Stella …
Jangan nangis …
Jangan pernah nangis di depan dua manusia bi na tang ini.
BUKK!