Barbar Mode On

869 Words
BUKK!!!! Dengan segenap tenaga, kepalan tinju itu mendarat tepat di wajah Nick. Seluruh amarah, stress, dan keputusasaan yang telah menumpuk dari hari kematian ayahnya sekarang meluber keluar tanpa ampun! Nick langsung terhuyung ke samping, tubuhnya jatuh setengah dari ranjang. “UGH!” erangnya kaget, tangannya refleks memegang pipinya yang langsung memerah. Lisa terbelalak. Dia benar-benar tidak menyangka Stella akan sebar-bar ini. Karena selama ini, Stella tidak pernah seperti ini. Selalu sabar tidak pernah melawan, apalagi kasar. Tapi hari ini, yang berdiri di depan mereka bukan Stella yang dulu. “Stella?!” teriak Nick, masih setengah linglung. Namun Stella bahkan tidak melihatnya lagi. Tatapannya sudah beralih ke Lisa. Penuh sesuatu yang membuat d**a Lisa mendadak terasa sangat tidak nyaman. Satu langkah … dua langkah … Stella mendekat. ZRETTTT! Jemari Stella langsung menjambak rambut cokelat panjang itu dengan keras. “Akkkhhhhhh!!” Lisa menjerit kaget, tubuh tak berbusananya langsung tertarik jatuh dari ranjang berdebam saat menghantam lantai. “Dasar wanita ja lang,” suara Stella keluar pelan. Tapi itu justru lebih menyeramkan. Karena nadanya sama sekali tidak pecah. Seperti seseorang yang sudah melewati batas kewarasannya. “Dari dulu … gue diem.” ZRETTT!!! Rambut Lisa ditarik lebih keras. Lisa langsung mencengkeram tangan Stella, mencoba melepaskan. “LEPAS! SAKIT!! SAKITTT! GILA LO!” “Lo ambil barang gue … gue diem.” “Lo hina gue … gue diem.” “Lo nggak sopan sama Mama gue ….” Suara Stella mulai turun. “Dan sekarang … lo ambil juga laki gue?” Lisa menahan napas. Untuk pertama kalinya, dia terlihat takut. “Stella, lepasin sebelum gue lapor Mama—” ucapnya, mencoba mengancam, meskipun suaranya mulai goyah. BUKK! Stella mendorongnya jatuh kembali ke lantai. “DIEM!” bentaknya. PLAKK! Tamparan itu mendarat keras di wajah Lisa. Kepalanya langsung terhentak ke samping, rambutnya berantakan menutupi separuh wajah. “Akhh!!” jeritnya, suaranya melengking. Namun Stella tidak berhenti. Seolah semua yang ia tahan selama ini … pecah dalam satu waktu. Dengan cepat, kakinya menekan pinggang Lisa, mengunci tubuh wanita itu agar tidak bisa bangkit. Lisa meronta, mencakar, mendorong. “LEPAS! CEWEK GILA!!! GILA LO! LEPASIN!!” Kukunya sempat mengenai lengan Stella, meninggalkan goresan-goresan merah. Tapi, Stella tidak bergeming. Seperti tidak merasakan sakit. Seperti tubuhnya sudah mati rasa. Yang bergerak sekarang hanya amarahnya. “Lo pikir lo bisa nindas gue terus? Hah?! Lo pikir lo akan aman berlindung di bawah ketek Mama lo terus?!” bentak Stella lagi. Satu tangan mencengkeram rambut Lisa lagi, memaksanya menatap lurus ke arahnya. “Gue kasih tau sekarang. Nggak, bi tch!” Lisa terengah. Napasnya mulai kacau. Wajahnya mulai memerah, bulir-bulir air mata mulai mengalir. “Stella … stop …!” PLAKK! Nick langsung panik, buru-buru mendekat. “STELLA, STOP! KAMU NYAKITIN DIA—” “DIEM, BA JI NGAN! SEBELOM GUE TONJOK LAGI!” bentakan itu langsung menghentikannya di tempat. Nick membeku. Karena nada itu, raungan itu, tidak pernah ia dengar dari Stella sebelumnya. Selelah apa pun hidupnya sebelum ini. Stella menatap Lisa lagi dari jarak yang sangat dekat. “Dengerin gue baik-baik …,” bisiknya pelan masih menjambak rambutnya. Setiap kata keluar jelas. “Mulai hari ini ….” Tekanan di kakinya sedikit bertambah, membuat Lisa meringis. “Jangan harap lo bisa nyentuh apapun yang punya gue!” Lisa mencoba membalas tatapan itu, tapi gagal. Ketakutan mulai merayap di tengkuknya. Perlahan, Stella melepaskan cengkeramannya. Bangkit, menjauh satu langkah. Lisa langsung berguling menjauh, memegangi wajahnya yang sudah bengkak dengan sorot ketakutan. Tentu saja, Stella belum selesai. Dengan napas yang masih naik turun, Stella merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. KLIK! Cahaya kamera menyala. Lisa langsung menoleh, panik. “LO NGAPAIN?!” KLIK! KLIK! Stella tanpa ragu memotret kedua orang itu. Nick langsung refleks menutup dirinya. Stella menatap hasil foto-foto itu sekilas, lalu mengangkat wajahnya. “Coba bikin gue kesel sekali lagi … gue pastiin lo berdua viral sekalian!” Kemudian, ia menyimpan ponselnya kembali, lalu dengan cepat berjalan ke arah lemari untuk mengambil tas-tasnya. Saat Lisa mencoba bangkit—BUKK! Stella mengayunkan salah satu tas itu, menghantam tubuh Lisa sekali lagi. “AWW!!” Lisa meringis, kembali jatuh. “Diem di lantai …,” gumam Stella dingin. Lisa menggertakkan gigi. Air matanya makin deras, tapi egonya belum mau kalah. “NGAPAIN LO DIEM AJA?!” teriaknya ke arah Nick, suaranya histeris. “BALAS DIA, NICK! LO TEGA LIAT GUE DIGINIIN?!” Nick membeku beberapa detik. Tatapannya beralih antara Lisa dan Stella. Wajahnya masih merah bekas pukulan. Pikirannya kacau. Tapi satu hal terlintas di otaknya … kariernya. Promosinya di perusahaan keluarga Atmadja. Semua yang sudah dia bangun selama ini … tidak boleh hancur. Akhirnya, dia bergerak cepat. Tangannya mencoba melingkar, memiting Stella. “Stella, udah cukup! Kamu bener-bener kasar jadi cewek—” Namun, yang dia lupa satu hal? Stella itu ban hitam di cabang beladiri. Tubuh Stella bereaksi refleks, kakinya bergeser. Tubuhnya berputar setengah. BAKK!! Siku Stella menghantam keras ke perut Nick. Udara langsung keluar dari paru-paru pria itu. “UGH!!” Belum sempat dia pulih … BUKK! Tas di tangan Stella kembali diayunkan. Menghantam kepala Nick dengan keras. Nick langsung terhuyung mundur kesakitan. “Jangan pernah … sentuh gue lagi,” decih Stella, “nyesel gue pernah pacaran sama cowok lemah mok ondo kayak lo!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD