Hari-hari setelah percakapan di taman itu berjalan dengan ritme yang lebih pelan, namun justru terasa lebih padat bagi Anita. Ada sesuatu yang berubah, meski tak pernah diucapkan secara terang-terangan. Haris tidak lagi memanggilnya terlalu sering, tetapi setiap kali mereka bertemu, tatapan pria itu seolah menyimpan banyak hal yang belum sempat keluar menjadi kata-kata. Anita pun merasakan hal yang sama. Ia lebih berhati-hati mengatur sikap, menjaga jarak secara fisik, namun pikirannya semakin sering tertuju pada Haris tanpa bisa dicegah. Pagi itu, Anita bersiap berangkat ke kampus lebih awal. Ajudan Haris sudah menunggunya di depan mobil. Namun sebelum ia melangkah keluar, Haris muncul dari arah ruang kerja dengan jas rapi, rambut disisir sempurna. “Kamu berangkat sekarang?” tanyanya.

