Keesokan harinya, suasana mansion terasa berbeda bagi Anita. Bukan karena perubahan fisik di sekelilingnya, melainkan karena perasaannya sendiri. Ia bangun lebih pagi dari biasanya, bersiap dengan tenang, dan memilih pakaian sederhana yang rapi. Tidak ada lagi tangan gemetar seperti hari-hari awal. Meski statusnya masih pelayan pribadi, ada sesuatu yang perlahan memberinya rasa percaya diri—perlakuan Haris yang konsisten, tegas, tapi tidak merendahkan. Pagi itu, Haris sudah berada di ruang makan ketika Anita datang membawa nampan sarapan. Ia berhenti sejenak di ambang pintu, memastikan segalanya rapi sebelum melangkah masuk. “Letakkan saja di sini,” ujar Haris tanpa menoleh, matanya fokus pada tablet di tangannya. Anita menuruti. Ia mengatur piring dan cangkir dengan rapi, lalu mundur s

