Keesokan paginya Anita terbangun dengan tubuh yang masih sedikit lemas, tetapi demamnya sudah turun. Ia duduk perlahan di tepi sofa kamar Haris, tempat ia semalam tertidur. Selimut tipis masih menyelimuti bahunya. Ia terdiam beberapa detik, menyadari situasi yang terasa janggal—ia berada di kamar majikannya, dalam keadaan paling rentan, dan tidak terjadi apa-apa selain perhatian yang tenang dan wajar. Justru itu yang membuat dadanya terasa aneh. Ia bangkit pelan, merapikan selimut, lalu menoleh ke arah pintu. Saat hendak keluar, pintu itu terbuka lebih dulu. Haris masuk dengan langkah tenang, mengenakan kemeja kasual berwarna gelap. Di tangannya ada segelas air hangat dan obat. “Kamu sudah bangun,” ucapnya datar. Anita langsung menunduk. “Maaf, Tuan. Saya ketiduran.” “Minum dulu,” kata

