Haris mengangkat telepon itu tanpa mengubah ekspresi. Nada bicaranya formal, singkat, dan cenderung dingin. Setelah panggilan berakhir, ia meletakkan ponsel tanpa komentar. Anita tetap fokus pada makanannya, pura-pura tidak mendengar. “Kamu tidak penasaran?” tanya Haris tiba-tiba. “Tidak,” jawab Anita jujur. Haris menatapnya. “Kenapa?” “Itu urusan pribadi Tuan.” Jawaban itu membuat Haris terdiam. Ia menyandarkan tubuh ke kursi, menatap langit-langit sebentar. “Kadang,” katanya pelan, “saya berharap kamu tidak seprofesional ini.” Anita mengangkat kepala. “Kenapa?” “Karena itu membuat saya terlihat seperti orang yang sendirian.” Kalimat itu membuat Anita terdiam. Ia tidak tahu harus merespons apa. Ia tahu batas. Ia juga tahu perasaannya sendiri sudah mulai melampaui batas itu. Har

