Bab 35

1306 Words

Pagi itu, sinar matahari masuk lewat tirai tipis kamar, tapi Elmira belum siap membuka matanya. Tidur semalam tidak benar-benar tidur—lebih seperti terjebak dalam lingkaran pikiran yang tak kunjung selesai. Suara ketukan pelan terdengar di pintu. “Mi…” suara Malik, terdengar serak. “Boleh aku masuk?” Elmira memejamkan mata lebih rapat, ragu menjawab. “Aku bikin sarapan,” lanjutnya. “Kalau kamu mau…” Tidak ada respon dari Elmira. Malik akhirnya hanya berdiri beberapa detik, lalu menyerah dan pergi. Elmira bangun perlahan. Rasa kantuk masih berat, tapi rasa perih di hati jauh lebih menguasai tubuhnya. Ia berjalan ke meja rias, melihat pantulan wajahnya sendiri di cermin—mata sembap, pipi pucat. ‘Kenapa rasanya seperti aku sedang berjuang sendirian?’ pikirnya. --- Di meja makan, arom

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD