Malik menutup pintu perlahan, lalu meletakkan tasnya di meja. “Siapa yang bilang sama kamu?” suaranya dalam, namun ada nada waspada di dalamnya. Elmira tak langsung menjawab. Ia menatap suaminya lama, mencoba membaca setiap perubahan ekspresi. “Bukan siapa-siapa. Aku lihat sendiri,” katanya akhirnya. “Anak itu… wajahnya nggak bisa bohong, Mas. Dan aku juga tahu namanya. Fathir. Fathir Malik.” Malik menarik napas panjang, kemudian duduk di kursi seberang Elmira. Tangannya meremas lutut, seolah mencoba mengendalikan dirinya. “Aku nggak mau kamu tahu begini,” ujarnya pelan. “Bukan karena aku mau bohong, tapi… aku nggak mau masa lalu aku bikin kamu sakit hati.” Elmira tertawa miris. “Terlambat, Mas. Sakitnya udah ada. Yang bikin lebih sakit itu… kamu memilih diam.” --- Malik menunduk.

