“Maaf Pak Malik… tapi ini baru saja dikirim. Tidak ada pengirimnya.” Malik mengambil amplop itu, mengucapkan terima kasih, lalu menutup pintu. Elmira bangkit dari ranjang, berjalan mendekat. “Apa itu?” Malik membuka amplopnya pelan—dan diam. Ia menarik keluar dua lembar foto lama. Buram, tapi jelas. Salah satunya memperlihatkan Elmira dan neneknya sedang memungut makanan dari belakang warung kecil. Elmira menatap foto itu, tubuhnya kaku. “Itu… waktu aku SMA.” Dan di dalam amplop ada satu catatan: > “Ini baru permulaan. Cinta tak bisa menghapus aib. Kita lihat, sampai kapan kau bisa menahan malu.” Malik menggenggam foto-foto itu erat. Wajahnya berubah dingin. Elmira memundurkan diri setengah langkah. Luka lama itu—rasa takut, malu, dan hina—semua muncul lagi, tanpa peringatan.

