Elmira terduduk di ruang tunggu rumah sakit dengan wajah lesu. Berkali-kali ia menghembuskan nafas yang begitu berat. Tatapan matanya masih tertuju pada map yang ia letakkan di atas pangkuan. Judul besar terpampang jelas di atasnya.
"PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK"
Entah untuk keberapa kali Elmira membaca tulisan itu. Karena terlalu tiba-tiba. Semua serasa tidak nyata. Seperti mimpi. Dan ia berharap itu memang mimpi. Namun, kertas di pangkuannya benar-benar nyata. Tidak hilang sama sekali. Bahkan makanan yang tadi ia makan masih terasa membekas di mulutnya. Jika ia masih memaksa mengatakan itu semua hanya mimpi maka tidak akan pernah mempengaruhi kenyataan yang terjadi.
Jika ia memutuskan mengabaikan map itu maka ia akan di datangi penagih hutang karena makanan yang ia makan di restoran tadi harus ia bayar. Namun jika ia menerima, Malik justru akan memberinya uang tambahan sebesar 4 Miliar.
Bayangkan, 4 Miliar. Mungkin resto yang ia kunjungi tadi bisa ia beli dengan uang sebanyak itu.
Itu dia masalahnya. Elmira terjebak. Tidak bisa mundur tapi juga berat untuk maju.
Penawarannya sangat menggiurkan. Dengan uang sebanyak itu, Nenek akan cepat membaik dan sehat seperti semula.
Tapi pernikahan yang di tawarkan juga tidak mudah. Dua tahun. Elmira harus menjalani pernikahan palsu selama dua tahun.
Sebuah hubungan yang tidak ingin Elmira jalani.
Pernah ditipu dan dimanfaatkan oleh seorang laki-laki membuat Elmira tak percaya cinta. Juga penyebab sakitnya sang nenek hingga dirawat selama dua tahun. Kebencian dan dendam itu tak pernah hilang. Kelemahan ekonomi tak bisa membuatnya menuntut pria badjingan itu.
Dan sekarang Elmira ditawari pernikahan kontrak. Sungguh, betapa pahitnya hidup. Ia mengusap wajahnya yang kusam dengan frustasi.
Tiba-tiba, perawat dan suster berlarian melewati ruang tunggu, wajah mereka terlihat panik. Langkah mereka cepat menuju kamar rawat neneknya. Elmira menegakkan tubuhnya seketika, jantungnya berdegup kencang.
“Maaf, ada apa?” suaranya terdengar panik, hampir tergagap.
Salah satu suster menoleh sejenak, wajahnya tegang. “Nenek Anda—kondisinya memburuk! Kami butuh pembayaran segera agar penanganan bisa dilakukan tanpa tertunda!”
Elmira menelan ludah. Dadanya sesak. Map di pangkuannya seolah menjadi beban yang semakin berat. Semua pilihan yang selama ini ia pikirkan, kini bertemu pada satu titik.
Ia menggenggam map itu lebih erat, kertas berisi tulisan “PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK” seakan menampar wajahnya. Pikiran Elmira kacau. Setiap detik yang berlalu terasa seperti tekanan yang menindihnya.
Namun suara suster yang terburu-buru memotong semua ragu itu. “Cepat, Bu Elmira! Kalau tidak, kami tidak bisa menangani nenek Anda!”
Elmira menutup mata sejenak. Ia bisa merasakan tangan neneknya yang lemah, wajah yang selalu menatapnya penuh kasih, dan sakit yang tak pernah hilang selama dua tahun terakhir. Semua itu menuntutnya bertindak.
Ia membuka matanya, menatap map itu lagi. satu-satunya jalan keluar yang ia miliki. Ia merasa terjepit. Hatinya menolak, tapi logikanya memaksa.
Elmira menarik napas panjang, memaksa dirinya tenang.
“Baiklah… aku akan lakukan,” bisiknya.
****
Elmira menatap tumpukan uang di hadapannya, masih terasa seperti mimpi. Empat miliar rupiah. Uang yang selama ini hanya ada dalam angan, sekarang ada di tangannya, diberikan secara cash tanpa ribet. Rasanya luar biasa sekaligus menegangkan. Dengan uang itu, semua biaya rumah sakit neneknya bisa segera ditangani. Biaya rawat inap, obat-obatan, dan pengobatan jangka panjang semuanya bisa dilunasi tanpa menunggu satu hari pun.
Bahkan rumah yang dulu ia gadaikan kini berhasil ditebus kembali. Sedikit ia renovasi, menambahkan cat dan menata ulang interior agar lebih hangat. Rumah itu kini bukan sekadar tempat tinggal, tapi simbol harapan yang nyata, harapan untuk neneknya, dan untuk hidup Elmira yang selama ini penuh tekanan.
Namun, bayangan pahit kontrak pernikahan tidak bisa ia singkirkan. Ia harus menjalani pernikahan kontrak dengan Malik Aryasatya, CEO dari Arya Global Corp, konglomerat yang bergerak di bidang investasi, properti, dan teknologi.
*****
Malik muncul dari balik tirai, tampak sempurna dalam jas hitam rapi dengan dasi silk. Tatapannya penuh wibawa, namun saat bertemu mata Elmira, terselip kilau hangat yang membuatnya tampak menawan. Ia melangkah dengan percaya diri, senyum tipis menghiasi wajahnya, seolah semua orang hanya melihat kisah cinta yang harmonis.
Upacara berlangsung khidmat. Musik klasik mengalun lembut, tamu duduk rapi, dan wartawan mencatat setiap detail.
Di hadapan pendeta dan ribuan mata yang mengamati, Elmira dan Malik mengucapkan janji. “Aku bersedia,”
Ruang ballroom seketika hening sesaat, lalu terdengar tepuk tangan riuh dari para tamu undangan. Lampu flash wartawan berkedip-kedip di seluruh ruangan.
“Cium! Cium! Cium!” terdengar sorakan dari beberapa tamu.
Elmira menelan ludah, jantungnya seolah berdetak lebih cepat dari biasanya. Panik dan gugup bercampur aduk, membuat tangannya dingin. Ia menatap ke arah Malik, berharap dia tidak…
Malik tersenyum tipis, menatap Elmira dengan tatapan dalam yang membuatnya seketika terdiam.
Tanpa sepatah kata pun, Malik melangkah mendekat, tangannya perlahan menggenggam pinggang Elmira. Tubuhnya menempel sedikit, membuat Elmira merasa seperti ada medan listrik halus yang membuat seluruh sarafnya tegang. Napas Elmira tercekat, campur aduk antara takut, cemas, dan…
“Lemaskan tanganmu… lingkarkan di leherku,” bisik Malik. Tatapannya menembus langsung ke mata Elmira. “Ikuti gerakanku, majukan wajahmu sedikit, kita harus terlihat alami, seolah sama-sama menginginkan ini.”
Elmira menelan ludah, ia tahu peran harus ia jalani di hadapan ribuan mata.
Lalu… bibir Malik menyentuh bibirnya. Singkat. Hanya satu detik, tapi cukup membuat seluruh saraf Elmira tegang. Napasnya tercekat, hatinya campur aduk.
Seketika, ribuan mata di ballroom tertuju ke arah mereka. Sorakan tamu undangan membahana. Lampu flash wartawan menyala, membidik momen itu dari berbagai sudut. Elmira bisa merasakan setiap klik kamera, setiap sorot lampu, menyorot bibir mereka yang baru saja bersentuhan.
****
Malam menggantung diam di langit kota, menyisakan kilau lampu-lampu gedung pencakar langit yang memantul di jendela kaca penthouse. Elmira berdiri di balkon, diam, menatap ke kejauhan seolah mencari jawaban dari sesuatu yang tak ia pahami. Angin malam menyibak rambut panjangnya, membuatnya memeluk tubuh sendiri. Gaun satin lembut warna champagne yang dipilihkan langsung dari butik pribadi Malik memang indah, tapi dingin. Sama dinginnya dengan dunia yang kini harus ia masuki.
Ia resmi menjadi istri seorang miliarder.
Namun tak ada pelukan. Tak ada pelafalan cinta. Hanya selembar kertas kontrak dan janji-janji tanpa hati.
Pintu geser balkon terdengar terbuka. Langkah kaki tenang mendekat, disusul oleh suara halus dari pria yang kini memegang dua gelas kristal berisi wine merah tua.
“Untuk malam pertama sebagai pasangan suami istri,” ujar Malik datar, menyodorkan satu gelas pada Elmira. “Besok pagi kita akan pergi bulan madu. Jadi, tidur cepat. Habiskan winemu. Aku yakin kau tidak akan bisa tidur tanpa itu.”
Elmira menatap wine itu cukup lama. Lalu tanpa berkata apa pun, ia meneguknya sekaligus hingga tetes terakhir. Malik mengerjap pelan, tak menyangka.
“Wow,” katanya, separuh mengejek. “Kau haus? Atau kau sangat menyukai wine mahal?”
Elmira menatap gelas kosongnya, lalu tersenyum tipis. “Aku tidak pernah minum sebelumnya, selama hidup, aku habiskan waktuku untuk bekerja, siang malam, 24 jam kalau perlu. Semua hanya untuk bisa makan, bayar listrik, dan bertahan hidup.”
Ia mengangkat gelas kosong itu, menatap cahayanya yang tembus dari dasar kaca. “Wine ini… rasanya aneh. Pahit. Tidak seperti yang kupikirkan. Tapi harganya lebih mahal dari gajiku selama setahun, bukan?”
Malik hanya mengangguk kecil, matanya menelaah perubahan wajah Elmira. Pipi gadis itu mulai memerah. Matanya mulai sayup.
“Elmira, apa kau… mabuk?” tanyanya, keningnya berkerut.
Namun Elmira hanya tersenyum, langkahnya perlahan mendekat.
“Ini malam pernikahanku,” ucapnya lembut. “Sesuatu yang kupikir hanya akan jadi mimpi. Dan sekarang semuanya tampak nyata.”
Malik terdiam, mulai merasakan sesuatu yang tidak biasa dari sikap gadis itu.
“Tapi…” Elmira melanjutkan sambil berjalan lebih dekat, langkahnya terhuyung ringan. “Masih kurang satu hal.”
Malik menatap dengan diam mendegarkan.
“Ciuman pengantin,” lanjutnya menatap lurus.