“Ciuman pengantin,” lanjutnya menatap lurus.
Mata Malik membulat, tubuhnya refleks mundur satu langkah saat Elmira semakin mendekat, seolah sungguh akan menciumnya. Napas gadis itu hangat dan aromanya mengandung jejak wine mahal yang baru saja ia teguk.
Namun sebelum jarak mereka terlalu dekat, Elmira tiba-tiba terhuyung dan jatuh limbung ke depan.
“Elmira!”
Refleks, Malik menangkap tubuh mungil itu sebelum sempat membentur lantai marmer balkon. Elmira sudah tak sadarkan diri, wajahnya merah, napasnya lembut dan teratur.
Dalam pelukannya, Malik menatap wajah istri kontraknya dengan keterkejutan yang belum pernah ia alami.
***
Elmira terbangun dengan tarikan napas tajam, tubuhnya mendadak tegak dari ranjang. Sinar matahari menembus tirai tipis jendela penthouse, menyilaukan mata yang masih berat dan perih. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada palu yang menghantam dari dalam.
Ia menoleh ke sekeliling dengan napas memburu.
Gaun yang ia kenakan semalam masih melekat di tubuhnya, kini kusut dan kusam. Rias wajahnya luntur, menyisakan bayangan maskara di bawah mata dan lipstik pudar di sudut bibir. Rambut panjangnya berantakan, sebagian menempel di pipi karena keringat.
Di sekitarnya, ranjang king-size itu terlihat kacau. Selimut tersingkap, bantal terguling, dan aroma wine yang samar masih tercium di udara. Namun satu hal yang membuat jantungnya berdebar lebih keras, Malik tidak ada di sana.
Elmira menoleh cepat ke arah jam di dinding. Hampir pukul tujuh pagi.
Tiba-tiba, suara dering ponselnya memecah keheningan. Ia buru-buru meraihnya dari sisi ranjang, lalu mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelpon..
“Ya… Halo?”
“Turun ke lobi sekarang,” suara Malik terdengar dingin, nyaris tak bernyawa. “Mobil berangkat sepuluh menit lagi. Kalau kau tidak muncul, aku anggap kau memilih untuk tidak ikut.”
Sambungan langsung mati.
Elmira mematung beberapa detik, lalu melompat dari ranjang, terpeleset sedikit karena ujung gaunnya, lalu menahan diri pada sisi meja.
“Ya Tuhan…” desisnya panik.
Ia segera membuka koper yang belum sempat dibongkar, menarik gaun kasual warna krem, lalu masuk ke kamar mandi dengan langkah tergesa. Air dingin mengenai wajahnya, membuatnya sadar betapa kusut dan tidak pantasnya ia tampil di depan siapa pun.
Di sela keramas cepat dan make up darurat, pikirannya berputar. Malam itu... ia meneguk wine hingga habis, berjalan sempoyongan dan… apa dia sempat mencoba mencium Malik?
Elmira menutup wajahnya dengan tangan.
“Bodoh,” gumamnya.
Lima menit kemudian, ia sudah berpakaian rapi, rambut dikuncir setengah, dan wajah bersih dari sisa semalam. Ia menggenggam tas kecil dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu berlari menuju lift.
Jantungnya berdebar tak karuan. Elmira mencoba mengingat apa yang terjadi selanjutnya, tapi kepalanya terlalu sakit hingga tak ada lagi yang ia ingat.
“Elmira, kau tidak bertindak bodoh bukan?” gumamnya bertanya pada diri sendiri meski tak mendapatkan jawaban.
Pintu lift terbuka dengan bunyi ding pelan, dan Elmira langsung melangkah cepat keluar, hampir setengah berlari. Nafasnya memburu, jantungnya berdetak kencang, dan ujung tumit sepatunya nyaris terpeleset karena lantai marmer yang terlalu licin.
Matanya langsung menangkap sosok Malik yang berdiri tegak tak jauh dari sana, di dekat pintu masuk lobi penthouse. Pria itu mengenakan setelan travel serba hitam dan jam tangan mewah yang sejak tadi terus ia lirik.
Saat tatapan mereka bertemu, Malik menatapnya tajam, dingin, tanpa ekspresi. Tapi Elmira malah tersenyum lebar, lega karena ia berhasil tepat waktu.
“Aku tidak terlamb—”
Bruk!
Langkah kakinya yang terlalu cepat membuat tumitnya tersandung ujung gaunnya sendiri. Elmira terhuyung ke depan, dan sebelum ia sempat menahan diri atau berseru, tubuhnya terdorong ke arah Malik.
Refleks Malik tak cukup cepat untuk menghindar atau menangkap tubuh Elmira.
Dan saat tubuh Elmira menabrak dadanya, bibirnya tak sengaja bersentuhan dengan bibir Malik.
Waktu seolah membeku.
Elmira membeku. Malik juga. Ruangan lobi sunyi, hanya suara detik jam dinding yang terus berdetak keras di telinga keduanya.
Tubuh Elmira masih setengah menempel di d**a Malik, napasnya tercekat.
Lalu ia buru-buru mundur, mata membulat, wajah memerah.
“M-Maaf Aku tidak sengaja!” serunya panik, menatap Malik yang masih terdiam kaku.
Malik mengerjap pelan. Bibirnya sedikit terbuka. Matanya menatap Elmira seolah sedang mencerna apa yang baru saja terjadi.
“Cepatlah! Kita sudah terlambat,” ucap Malik dingin berbalik meninggalkan Elmira. Seolah apa yang baru saja terjadi tidak penting. Elmira pun hanya bisa menunduk dan mengekori langkah Malik yang sudah menjauh.
****
Pesawat telah mendarat sejak setengah jam lalu, dan kini kaki Elmira berpijak di Hawaii. Saat mereka keluar dari area bandara menuju area resort pribadi yang disewa Malik, Elmira langsung terpukau.
Hamparan laut biru membentang luas, menyatu dengan langit cerah dan garis pasir putih yang nyaris tak tersentuh. Angin tropis menyapa wajahnya, menyibakkan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai.
“Ya Tuhan… indah sekali…” gumamnya, nyaris berseru. “Aku belum pernah melihat laut sejernih ini!”
Elmira berlari kecil ke arah pagar pembatas, memandang ke kejauhan sambil tertawa kecil. Matanya berbinar penuh antusias, seperti anak kecil yang baru pertama kali liburan.
Namun saat ia menoleh ke belakang, Malik sudah berjalan menjauh, tanpa sepatah kata, tanpa menoleh sedikit pun.
“Hei!” Elmira buru-buru mengejarnya. “Tunggu! Kau meninggalkanku!”
Pria itu tidak menjawab. Langkahnya tetap stabil, dingin, dan tak terganggu oleh sorak bahagia Elmira.
Elmira mengepalkan tangannya, kesal karena dari sejak di bandara, di mobil, hingga pesawat, Malik tak mengucapkan satu patah kata pun padanya. Bahkan melirik pun tidak. Seolah ia hanyalah bayangan.
**
Vila tempat mereka menginap tampak seperti surga. Bangunan luas dengan dinding kaca, kolam pribadi, dan pemandangan langsung ke laut. Elmira melangkah masuk penuh kagum, matanya menyapu ruangan demi ruangan hingga ia menemukan kamar utama.
Ranjang king-size dengan kanopi putih dan balkon pribadi yang langsung menghadap ke pantai.
“Wow…” Elmira mendesah kagum. Ia berbalik, hendak duduk di ujung ranjang namun suara Malik menghentikannya.
“Itu bukan kamarmu.”
Suara dingin itu menghantam udara seperti batu.
Elmira menoleh cepat. “Wah kau bicara juga akhirnya,” ujarnya tajam.
Malik hanya menatapnya datar.
Elmira bangkit, berdiri berhadapan dengannya. “Apa ini semua karena ciuman tak sengaja itu?” tanyanya penuh tekanan. “Kau marah? Diam seharian? Tak bicara sama sekali? Hanya karena insiden konyol yang bahkan tidak kuinginkan?”
Tatapan Malik mengeras. “Kau yakin tidak menginginkannya?”
“Kau pikir aku sengaja?”
“Ya, kau yang mengatakannya semalam.”
“Aku mabuk, Malik! Aku bahkan tak pernah minum sebelumnya!”
“Begitu ya?” Malik maju satu langkah.
“Kau minum satu gelas wine mahal, dapat satu ciuman, dan sekarang apa? Apa kau juga ingin malam pertama?”
Elmira terperangah. “Apa?!”
“Jika itu yang kau mau,” ucap Malik tajam. “Kita bisa melakukannya sekarang. Tanpa cinta, dan aku tidak akan tanggung jawab apa pun yang terjadi setelahnya. Tapi kau harus siap terima risikonya.”
Sebelum Elmira sempat bicara, Malik mencengkeram bahunya dan mendorongnya ke atas ranjang. Tubuh Elmira terpental ringan di atas kasur empuk, matanya membulat karena syok.
Malik menunduk, mencium bibirnya dengan kasar, dingin, dan tanpa perasaan.
Elmira tersentak.