Bab 12

1111 Words

Virion berdiri di depan pintu kamar Liana, menatapnya dengan pandangan kosong. Pintu itu belum terbuka sejak malam kemarin. Tidak ada suara langkah, tidak ada suara air mengalir, bahkan cahaya pun tak tampak keluar dari celah bawah pintu. Ia sudah mencoba menghubungi Liana semalam, beberapa kali mengetuk, memanggil namun tidak ada balasan. Tak biasa bagi Liana untuk begitu diam. Biasanya, jika marah atau kesal, perempuan itu akan tetap menjawab, meski dengan kalimat tajam atau sindiran dingin. Tapi sekarang? Virion menahan napasnya sejenak, lalu kembali mengangkat tangan untuk mengetuk pintu. Kali ini lebih kuat. “Liana,” panggilnya tegas. “Kita perlu bicara.” Masih tak ada jawaban. Virion menurunkan tangannya perlahan, lalu menggenggam kenop pintu. Ia menghela napas, ragu sesaat, s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD