Keheningan di antara mereka berlangsung cukup lama. Hanya napas lembut Liana dan detak jantung Virion yang terasa di udara. Ia masih menggenggam tangan wanita itu, erat namun tak menyakitkan, seperti berusaha menjaga agar Liana tetap berada dalam jangkauannya. Virion menunduk sedikit, menatap mata Liana dalam-dalam. “Aku… tidak tahu,” katanya pelan, suaranya lebih lembut daripada biasanya. “Aku tak tahu kalau kau pernah melalui semua itu.” Wajahnya menyimpan keterkejutan dan sesuatu yang jarang terlihat penyesalan. “Aku minta maaf, Liana,” lanjutnya. “Untuk semua perkataan dinginku, semua perlakuanku yang menganggapmu hanya seperti bagian dari permainan. Seandainya aku tahu lebih cepat…” Liana hanya menatapnya, bibirnya bergerak sedikit membentuk senyum samar. Virion menghela napas da

