Liana duduk membisu di depan meja kamarnya. Laptop menyala, dan jari-jarinya menggenggam erat sebuah flashdisk hitam kecil yang baru saja diberikan Rafa. Ujungnya dingin, tapi bukan itu yang membuat tubuh Liana menggigil. Ada firasat aneh di dadanya. Firasat yang selama ini hanya jadi bayangan samar kini perlahan mewujud. Dengan satu klik, flashdisk itu terhubung. Layar menampilkan beberapa folder. Judul-judulnya membuat napas Liana tercekat. Tangannya mulai gemetar saat membuka folder “Varlente Archive”. Di sana, puluhan file terbuka. Dokumen lama, foto-foto rumah besar di tepi danau, catatan rekening dan surat wasiat. Semuanya menyebut satu nama, Keluarga Varlente. Dengan napas tersendat, ia mengklik salah satu file gambar. Seketika, wajah dua orang terpampang di layar. Seorang pria

