Mobil hitam terhenti di tepian dianau. Virion menatap dengan penuh kewaspadaan. “Sudah sampai,” ucap Virion sembari mematikan mesin mobil. Liana menarik napas panjang dan membuka pintu. Uap dingin dari danau langsung menyambutnya. Sepasang matanya menatap bangunan itu lama… seperti menyapa hantu masa lalu. Virion berjalan ke sampingnya, memasukkan tangan ke saku celana. “Kau yakin tempat ini membawa ketenangan?” tanyanya. Liana menoleh, tersenyum kecil. “Kau akan terkejut… betapa sunyinya luka bisa terdengar sangat nyaring di sini.” Liana melangkah perlahan menyusuri tanah berumput yang lembab, sepatu botnya tenggelam sedikit setiap kali ia melangkah lebih jauh ke area lapang dekat danau. Angin tipis meniup rambutnya, membawa aroma tanah basah, dedaunan tua, dan nostalgia. Matanya ta

