Bab 19. Memantapkan Hati

1196 Words

Tangan Harris yang menggenggam setir terasa kaku. Suara lirih Karin barusan seperti pisau yang menusuk pelan ke dalam dadanya —dingin, tapi menyakitkan. Ia tidak mengerti kenapa perasaannya tiba-tiba sesakit ini. Bukankah seharusnya ia merasa puas? Bukankah ini bagian dari rencana? Tapi kenapa justru dadanya terasa sesak mendengar Karin ingin pergi jauh, seolah melarikan diri dari segalanya —termasuk darinya. “Jangan bicara begitu, Karin,” suara ibunya parau, menahan tangis. “Ayahmu keras, iya. Tapi dia bukan orang jahat. Dia hanya tidak sanggup menerima kenyataan seperti ini. Mau bagaimana pun kami juga turut bertanggung jawab. Kami tidak akan pernah membiarkanmu pergi.” Karin menatap keluar jendela. Hujan mulai turun lebih deras, tetesan air menyentuh kaca mobil seperti air mata yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD