Pagi itu, udara terasa berat di ruang tamu rumah keluarga Karin. Aroma kopi hitam dan suara detak jam dinding berpadu dengan ketegangan yang mampu dirasakan setiap orang di dalamnya. Harris duduk tegak di sofa panjang, menatap lantai, sementara di seberangnya Ayah Karin duduk dengan rahang mengeras, menatapnya tanpa berkedip. “Kau datang sendiri?” tanya sang ayah dingin. Harris mengangguk pelan. “Ya, Pak. Saya rasa ini urusan saya, bukan keluarga saya.” Sebuah tawa sinis lolos dari bibir lelaki paruh baya itu. “Urusanmu? Kau pikir urusan sebesar ini bisa kau tanggung sendiri? Kau sudah membuat anakku hamil, mempermalukannya, mempermalukan keluarga kami, dan sekarang datang tanpa sedikit pun menunjukkan niat baik?” Harris menunduk, menahan diri. “Saya datang untuk memperbaiki keadaan,

