14. Bahaya Yang Mengancam

2392 Words

Aleta duduk di kursi kayu yang sudah terkelupas catnya, dagu bertumpu di telapak tangan, matanya tidak berkedip mengamati Sherry yang sibuk di dapur. Dari ujung kaki kakaknya yang beralas sendal jepit usang, naik ke celana pendek yang sudah pudar, ke kaus longgar dengan leher mulai melar, hingga ke puncak kepala yang rambutnya bergerak setiap kali ia mengaduk sayur di wajan. Ada sesuatu yang berbeda. Aleta tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Tapi matanya yang masih polos itu bisa menangkap perubahan kecil, cara rambut kakaknya jatuh di bahu, lebih lembut dari biasanya. Cara kulit wajahnya terlihat lebih bersih, lebih cerah. Cara tangannya yang kasar kini memiliki kuku-kuku mungil dengan ujung merah muda pucat, seperti kelopak bunga yang menempel di jari-jarinya. Dan wangi itu. Set

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD