13. Tidak Pernah Cukup

2528 Words

Pintu kayu jati di ruang kerja Raymond terbuka dengan keras, tanpa ketukan, tanpa permisi. Gagang pintu menabrak dinding dengan bunyi debam yang membuat Raymond mengangkat kepalanya dari tumpukan berkas di meja. Cynthia melangkah masuk. Tumit tingginya berdetak di lantai marmer, rok pensil hitamnya membatasi langkahnya yang tegas, wajahnya sudah terpasang ekspresi yang sulit dibaca. Tidak ada kemarahan atau khawatir. Tapi seperti orang yang sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang belum ia ajukan. Raymond mendecak kesal. Rahangnya mengeras, jari-jarinya berhenti di atas kertas yang tidak benar-benar ia baca. Tapi ia tidak bisa mengusir sepupunya. Cynthia bukan orang sembarangan, dia adalah keluarga, dan yang lebih penting lagi dia menikahi seorang pejabat kota, sehingga memiliki hak istim

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD